Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan

KONSERVASI ALAM DALAM PERSPEKTIF ETIKA ISLAM

Abd. Aziz (Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan)



Article Info

Publish Date
22 Oct 2014

Abstract

Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian, keseimbangan dan keindahan alam. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi harus menjadi slogan dalam kehidupan. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain. Namun demikian, realitanya, banyak orang yang justru merusak alam, menebang hutan secara liar, melakukan penambangan yang tidak terukur, melakukan pengeboran minyak bumi tanpa analisis mengenai dampak lingkungan, dan beberapa tingkah merusak alam yang lain. Setelah melakukan pembahasan terhadap problematika tersebut melalui pendekatan etika lingkungan; Antroposentrisme, Biosentrisme, Ekosentrisme, Eko-feminisme, artikel ini menemukan bahwa salah satu penyebab perusakan alam tersebut adalah karena faktor paradigma transendental yang tidak lagi menganggap bahwa melestarikan lingkungan juga dianjurkan bahkan diwajibkan oleh agama Islam. Melalui tiga paradigma konservasi alam; eko-teologi, fiqh lingkungan, dan eko-sufisme, dalam memanfaatkan alam, manusia harus menyeimbangkan tiga porsi amanahnya; al-intifâ’, al-i’tibâr,dan al-ishlâh. Tiga etika Lingkungan tersebut tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan. As a part of environment, human should keep the perpetuation, the balance, and the beauty of nature. A careful use of the limited natural resources must be a slogan in daily life. The environment is not provided only for human, but also for other creatures. Factually, many people destroy universe by illegal logging, free mining, uncontrolled drilling, of course, without any analysis of its damage impact to the environment. After discussing these problems through an approachment of environment ethics; Anthroposentrism, Biocentrism, Ecocentrism, Eco-feminism, this articel found that the cause of the damage of this universe is a transcendental paradigm factor assumed that conservation was notemphasized by Islam. Through these conservational paradigm; ecology, environmental fiqh, and eco-sufism, in term of universe utilization, people should balance three aspects; al-intifâ’, al-i’tibâr, dan al-ishlâh. These three environment ethics not only investigate the way of people behavior to universe, but also maintain the relation among creatures in this universe, between people and people, people and all other creatures.

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

akademika

Publisher

Subject

Religion Humanities Education Law, Crime, Criminology & Criminal Justice Social Sciences

Description

Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion ...