Latarbelakang: Jumlah kasus campak di DIY tahun 2014 mencapai 1.222 kasus (Kemenkes 2014). Jumlah ini menempatkan DIY menjadi provinsi dengan jumlah kasus campak terbanyak ketiga setelah DKI Jakarta dan Aceh. Kejadian luar biasa campak di 2014 sebanyak 10 kali dengan 262 kasus, 2014 1 kali dengan 14 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beban ekonomi akibat KLB campak pada sektor rumah tangga.Metode: Penelitian deskriptif dengan desain survei, data yang dikumpulkan berupa biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi selama pasien terkena campak, dilakukan wawancara menggunakan kuesioner. Data sekunder berupa kejadian luar biasa campak tahun 2014 dan 2015. Penelitian pada Februari - Maret 2016.Hasil: Jumlah responden sebanyak 177, yang merupakan pasien KLB campak di DIY, 163 pasien (92,09%) mengunjungi fasilitas kesehatan. Total biaya medis adalah Rp 17.982.000,- biaya langsung non medis Rp 7.804.900,- sehingga total biaya langsung Rp 25.786.900,- (Rp 145.700,- per kasus). Sedangkan total biaya tidak langsung Rp 11.720.000,-(Rp 160.500,-). Estimasi beban ekonomi KLB campak Rp 37.506.900,- (Rp. 211.900,- perkasus). Setara dengan 9,20% dari pendapatan rumah tangga. Secara umum biaya yang di keluarkan tunai (Out Of Pocket) sebesar 6,32% dari pendapatan rumah tangga, belum sampai katastropik. Komponen yang dominan adalah biaya langsung. Estimasi beban ekonomi KLB campak Rp 211.900,- perkasus, beban ini secara umum masih bisa di atasi oleh rumah tangga. Namun ada 6 pasien (35,29%) dari total pasien rawat inap yang melakukan strategi copyng (meminjam uang, menjual aset dan menggadai barang).Kesimpulan: Perlu advokasi kepada masyarkat terkait pencegahan campak yaitu dengan cara imunisasi campak.
Copyrights © 2016