TujuanMengidentifikasi fungsi dan peran SIKDA sebagai media aplikasi online tentang sistem informasi kesehatan di Kota Samarinda.MetodePenelitian ini merupakan penelitian deskriptif di mana informasi dan data diperoleh dari SIKDA Samarinda dan web based information. HasilKeberadaan SIKDA membuat sistem informasi kesehatan di Samarinda semakin fleksibel dan mampu terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan lainnya. SIKDA Samarinda bermula dari SIKDA Puskesmas dan SIKDA Rumah Sakit. Pada 2017, terdapat pengembangan berupa SIKDA Dokter Keluarga dan Klinik Pratama, SIKDA Dokter Spesialis, SIKDA Kebidanan untuk seluruh bidan praktik mandiri, SIKDA Fasilitas Pendidikan Kesehatan, dan SIKDA Apotek.Semua itu menjadi satu kesatuan sistem informasi kesehatan yang komprehensif dan saling terhubung satu sama lain. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu kesehatan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Integrasi dengan BPJS Kesehatan membuat Dinkes Samarinda mendapatkan basis data peserta.SimpulanDengan sistem yang terintegrasi, praktik kecurangan di tingkat FKTP dapat dicegah, dikenali, dan dikendalikan. Data-data yang terkumpul juga bisa diaudit per orang secara rinci. Penerapannya melalui register di Puskesmas dan selain Puskesmas, pada data berbasis individu, BPJS Kesehatan Samarinda mendapatkan hak akses khusus untuk melihat apakah benar pasien terlayani atau tidak. Pada saat rumah sakit mengajukan klaim pembayaran ke BPJS Kesehatan, pihak RS diwajibkan melaporkan segala kegiatannya ke Dinkes Samarinda. Sehingga tercipta data pembanding, sebagai proses identifikasi kecurangan di pelayanan rujukan.Selain itu, pada layanan dokter keluarga, diwajibkan melakukan pelaporan secara elektronik untuk penyakit tertentu ke Puskesmas. Selanjutnya, Puskesmas bisa melakukan tindakan pencegahan untuk menekan angka kesakitan. Data ini juga akan terlapor ke tim pencegahan kecurangan. Hasil dari data tersebut, akan menjadi kontribusi bagi pencapaian SPM (Standar Pelayanan Minimal) Kesehatan kota Samarinda.
Copyrights © 2018