Latar Belakang: Perkawinan anak merupakan masalah kesehatan reproduksi karena memperpanjang masa reproduksi terutama pada perempuan yang berisiko mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Kemiskinan, peranan gender dalam keluarga, pemahaman keagamaan dan tradisi perkawinan merupakan faktor terjadinya perkawinan anak di Kabupaten Rembang. Dalam kondisi yang demikian, ternyata sebagian perempuan mengambil keputusan untuk keluar dari perkawinan anak.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi strategi pada perempuan yang keluar dari budaya perkawinan anak di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.Metode: Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus eksploratoris. Metode pengumpulan data dengan FGD mengenai konsep perkawinan dan perkawinan anak kepada 9 informan, kemudian mengambil 6 informan untuk wawancara mendalam mengenai alasan dan strategi informan keluar dari perkawinan anak. Pemillihan informan dilakukan dengan purposive sampling strategy, dengan kriteria perempuan yang tidak menikah di usia anak, berusia 18-24 tahun, lahir dan tumbuh di Kecamatan Sedan dan sudah menikah.Hasil: Pernikahan anak merupakan hal yang tidak menyenangkan menjadi alasan perempuan tidak menikah di usia anak, didasari oleh dampak perkawinan anak seperti tidak dapat menyelesaikan sekolah, menikmati masa remaja dan bermain. Strategi perempuan untuk tidak menikah di usia anak adalah cita-cita memiliki pendidikan tinggi dan merencanakan usia menikah. Dengan memiliki pendidikan tinggi yang harapannya dapat mempermudah perempuan mendapatkan pekerjaan. Selain itu, perempuan merencanakan usia menikah ketika sudah siap dan dapat bertanggungjawab terhadap keluarganya. Hambatan dan tantangan yang dialami perempuan adalah menolak perjodohan dari keluarga agar segera menikah. Status ekonomi keluarga dan adanya program/kebijakan tidak menjadi pertimbangan perempuan dalam mengambil keputusan untuk menikah.Kesimpulan: Perempuan memiliki persepsi bahwa perkawinan anak tidak menyenangkan. Persepsi tersebut didukung dengan merencanakan memiliki pendidikan tinggi dan merencanakan usia pernikahan menjadi alasan dan strategi perempuan untuk dapat keluar dari budaya perkawinan anak.
Copyrights © 2018