Tujuan: Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh tradisi, kebiasaan, dan adat budaya (perilaku sosial) dalam penerapan surveilens migrasi sebagai salah satu pengendalian malaria di Bukit Menoreh. Metode: Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan secara kualitatif, yaitu pendekatan eksplorasi dan pengumpulan data secara Diskusi Kelompok Terarah dan observasi di wilayah Bukit Menoreh. Hasil: 1). Upaya surveilens migrasi sudah dikenal dan sudah dilakukan di wilayah Bukit Menoreh, baik tertulis (Perdes) maupun tidak tertulis (kesepakatan bersama); 2). Kebiasaan minum kopi di angkringan, hiburan malam, kegiatan malam hari seperti bekerja, pengajian, kenduri, silaturahmi kerabat, hajatan, sudah merupakan tradisi atau kebiasaan dan tidak mengenal batas wilayah administrative; 3). Kesulitan dalam memantau pendatang atau mobilitas warga masyarakat paada malam hari dalam rangka surveilens migrasi di daerah perbatasan. Simpulan: Batasan kasus indigenous dan kasus import perlu diperjelas dalam kaitan pelaksanaan sureveilens migrasi terutama di daerah perbatasan.
Copyrights © 2019