Latar Belakang: Individu dengan risiko tinggi HIV dan AIDS yang datang ke pusat pelayanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) merasa khawatir atau cemas dirinya tertular HIV sehingga ingin tahu tentang keadaan dirinya. Mereka biasanya khawatir atau cemas terhadap implikasi AIDS itu sendiri baik secara fisik, psikologi, spiritual maupun sosial yaitu stigma dan diskriminasi masyarakat. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian konseling terhadap perubahan tingkat kecemasan klien risiko tinggi HIV dan AIDS. Metode: Penelitian ini adalah pra eksperiment dengan pendekatan one group pre post-test designe karena sebelum diberikan perlakuan, klien dikaji terlebih dahulu tingkat kecemasannya, kemudian setelah diberi perlakuan dikaji kembali tingkat kecemasannya, apakah mengalami penurunan tingkat kecemasan atau tidak. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner HARS. Tekhnik pengambilan sample yang digunakan yakni purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 21 orang. Analisa data univariat yang digunakan adalah dalam bentuk narasi, tabel distribusi frekuensi dan persentase, serta analisa bivariat menggunakan teknik analisa data parametrik yaitu t-test dependent. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 21 responden sebelum dan sesudah dilakukan konseling, mempunyai perbedaan nilai sebesar 6,19 dengan standar deviasi 4,98. Nilai p value 0,000 menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih kecil bila bandingkan nilai alpha 5% (0,05), artinya terdapat perbedaan kecemasan sebelum dan sesudah konseling, sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh konseling spiritual terhadap tingkat kecemasan pada klien risiko tinggi hiv dan aids di daerah pariwisata medical center Senggigi. Kesimpulan: pemberian konseling yang sudah berjalan dengan baik agar tetap dipertahankan dan ditingkatkan dengan mengadakan pelatihan konselor professional secara rutin dan berkesinambungan.
Copyrights © 2020