Keturunan Arab di Indonesia adalah sebagian dari penduduk yg berdiaspora. Mereka diyakini berasal dari Hadramaut, suatu provinsi di Yaman Selatan, mereka juga merupakan masyarakat primodial. Ini dilihat dari orientasinya terhadap tanah asal (fatherland), salah satu subkultur yang dibawa adalah bentuk sistem kekerabatan patrilineal. Hal ini berpengaruh pada pranata perkawinan yang mereka praktikkan yaitu perkawinan endogami. Namun demikian, fakta empiris di lapangan menyajikan bahwasanya telah terjadi hubungan tarik menarik dalam perkawinan endogami ke arah eksogami. Sebagai etnik yang berdiaspora, keturunan Arab di Yogyakarta secara tidak langsung bersinggungan dengan nilai-nilai budaya lokal. Persinggungan dengan budaya lokal tersebut nampaknya yang menjadi pengaruh terhadap dinamika dalam perkawinan endogami ke arah eksogami tersebut. Penelitian ini menggunaka pendekatan sosiologis yaitu pendekatan yang menggunakan logika-logika atau teori-teori untuk menggambarkan fenomena yang terjadi di dalam masyarakat, serta melihat pengaruh fenomena tersebut terhadap yang lainnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori diaspora dan dilengkapi dengan teori adaptasi oleh Robert K. Merton. Adapun hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam dinamika perkawinan keturunan Arab di Yogyakarta terdapat dua pola adaptasi yang terbentuk. Pertama adaptasi konformitas. Bentuk adaptasi ini umumnya dilakukan pada masyarakat untuk dapat menyesuaikan diri dengan yang lain. Dalam hal ini praktek perkawinan endogami menjadi bentuk pola adaptasi konformitas. Kedua, adaptasi rebellion. Bentuk adaptasi ini berarti penarikan diri dengan melakukan pemberontakan. Artinya pola adaptasi dilakukan dengan menolak tujuan budaya dan menciptakan struktur sosial yang baru. Dalam konteks ini keturunan Arab yang melakukan perkawinan eksogami dianggap sebagai bentuk menciptakan sebuah struktur sosial yang baru disertai dengan melakukan pengunduran diri dalam kelompoknya. Pola adaptasi konformitas dan rebellion yang dilakukan oleh keturunan Arab di Yogyakarta memberikan fakta empiris bahwasanya terdapat dinamika dalam praktik perkawinan yang dijalankan. Eksogami menjadi bukti bahwasanya adanya preferensi individu dalam bentuk pola interaksi dengan masyarakat.
Copyrights © 2020