Martin Heidegger, melalui metode Fenomenologi-Hermeneutika dan investigasi transendental, menampilkan suatu analisis dan interpretasi bahasa dalam tingkatan primordial-ontologis. Filsuf eksistensialisme ini menekankan, melalui karya-karya tulisnya, bahwa manusia dapat memahami keberadaan dirinya dengan suatu kesadaran ontis yang diinterpretasi. Pengungkapan kesejatian diri didasarkan pada Sein (Being) sebagai adanya Ada. Menurutnya, manusia memerlukan suatu pembelajaran berkelanjutan untuk menganalisis Ada itu dengan mempelajari dengan sungguh-sungguh Dasein (being-there) sebagai wadah pengungkapan kualitas diri di-dalam-dunia (being-in-the-world) dan hidup bersama-orang-lain (being-with-another). Seorang calon Imam Diosesan harus men-dunia, hidup di-tengah dunia, menyadari kesekitarannya dan menjadi berguna secara kualitatif. Itu tergantung dari bagaimana ia mem-bahasa-kan kehidupannya, bukan pertama-tama dengan bahasa artikualtif-komunikatif, namun dengan bahasa perbuatan, berakhlak dan berkarakter.
Copyrights © 2018