Perkembangan dunia yang pesat di era postmodern ini oleh imam diosesan Indonesia patut disyukuri karena membawa berbagai kemudahan dalam pelaksanaan reksa pastoral. Namun serentak dengannya disadari pula bahwa perkembangan tersebut membawa serta tantangan dalam menghayati kemiskinan Injil sebagaimana dijanjikan imam diosesan di depan uskup diosisnya sewaktu ditahbiskan. Menyikapi dasyatnya tantangan penghayatan hidup miskin seorang imam diosesan di era globalisasi ini, maka kesaksian hidup miskin Beata Teresa dari Kalkuta bisa menjadi jawabannya. Inspirasi semangat hidup miskin Beata Teresa, yakni kemampuan untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku bak oase yang memberi kekuatan dan semangat baru bagi para imam diosesan Indonesia untuk mau bersyukur dan bahagia melayani Kristus melalui janji hidup miskin.
Copyrights © 2018