Stres dapat meningkatkan probabilitas seseorang menderita premenstrual syndrome (PMS), pada tingkat berat, PMS dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. PMS merupakan masalah kesehatan yang cukup banyak dialami oleh wanita usia produktif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara stres dengan PMS. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober - November 2014 dengan responden sebanyak 93 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Pengumpulan data menggunakan modifikasi kuesioner DASS 42 untuk mengukur tingkat stres dan kuesioner PMS untuk mengetahui PMS yang dialami responden. Hasil yang diperoleh menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara stres dengan PMS (p = 0.231).
Copyrights © 2018