Khusyuk merupakan ruh dalam ibadah. Seseorang yang mengamalkan ibadah tanpa menghadirkan kekhusyukan, maka ibarat jasad tanpa ruh. Selain itu, khusyuk merupakan hal pertama yang akan hilang dari umat Islam. Mendalami makna lafadz khusyû’ diperlukan untuk menghadirkan dan meningkatkan kekhusyukan dalam melaksanakan semua amal ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran terhadap lafadz khusyû’ dalam tafsir Ibnu Katsir dan bagaimana metode Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat-ayat yang terdapat lafadz khusyû’. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Hasil analisis dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran lafadz khusyû’ dalam tafsir Ibnu Katsir disesuaikan dengan konteks dan objek yang disandari lafadz khusyû’. Ketika lafadz khusyû’ disandarkan kepada orang beriman, maka maknanya adalah sifat positif yang mewakili sikap tunduk, patuh, taat, takut (kepada Allah), berserah diri, iman yang kuat, dan merasa dalam pengawasan Allah. Sedangkan jika lafadz khusyû’ disandarkan kepada orang yang kafir, maka maknanya adalah sifat negatif yang mendeskripsikan sikap kehinaan, pandangan tertunduk hina, dan derajat yang rendah. Lafadz khusyû’ yang disandarkan kepada bumi bermakna bumi tersebut tidak ada tanaman, kering, dan tandus. Sedangkan ketika lafadz khusyû’ disandarkan kepada gunung, maka maknanya gunung tersebut tunduk dengan bentuk ketundukannya adalah hancur pecah belah. Metode penafsiran yang dipakai secara konsisten oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat-ayat yang terdapat lafadz khusyû’ adalah metode bi al-ma`tsûr.
Copyrights © 2018