Fokus studi ini menggali konsep persekutuan dalam Gereja Katolik sebagai budaya tandingan di tengah merebaknya fenomena individualisme. Hal ini disebabkan karena modernitas tidak hanya melahirkan sisi positif tetapi juga membawa dampak negatif dalam hidup manusia. Perkembangan teknologi yang serba canggih seperti handphone, komputer dan berbagai macam media elektronik lain telah menjerumuskan manusia ke dalam sikap individualisme. Akibatnya mengaburkan aspek persekutuan dalam hidup bersama termasuk persekutuan hidup dalam Gereja Katolik. Saat ini, orang Katolik lebih banyak menyibukan diri dengan urusannya sendiri sehingga mengabaikan nilai-nilai kebersamaan. Padahal, kebersamaan atau persekutuan adalah perekat yang menghubungkan semua anggota Gereja. Karena itu di tengah zaman modern yang syarat dengan invidualisme ini aspek koinonia dari panca tugas Gereja menjadi budaya tandingan. Dengan kata lain, ersekutuan menjadi sarana untuk meretas kecenderungan individualisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologis. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai persekutuan menjadi hal yang mutlak di tengah modernitas yang cenderung menampilkan sikap individualisme. Sebab dengan persekutuan, semangat iman, kebersamaan, solidaritas dan kesetiakawanan tetap terpelihara.
Copyrights © 2022