Buana Ilmu
Vol 7 No 1 (2022): Buana Ilmu

Lakon Carangan Nurkala Kalidasa Karya R.H Tjetjep Supriadi

Asep Wadi (ISBI BANDUNG)
Arthur S Nalan (ISBI BANDUNG)
Suhendi Afryanto (ISBI BANDUNG)



Article Info

Publish Date
03 Nov 2022

Abstract

Lakon adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang golek ataupun pertunjukan lainnya. Hal tersebut di peruntukan untuk mempertegas cerita dalam sebuah pertunjukan. Dalam wayang golek seorang dalang harus menguasai lakon dan juga mempunyai sebuah andalan lakon yang sangat di kuasai dalang tersebut, mulai dari segi dialog, monolog, dramatisasi, ataupun penguasaan karakter dalam lakon tersebut. Karena seorang dalang terkenalharus mempunyai sebuah ikon agar lebih di ketahui secara identik oleh para penggemarnya. Lakon dalam cerita wayang golek bisa disebut sebuah lakon andalan seorang dalang ketika melewati sebuah proses apresiasi secara terus menerus tanpa adanya rasa bosan dalam menonton nya ataupun mendengarkannya. Penelitian ini membahas tentang lakon carangan karya R.H Tjetjep Supriadi yang berjudul Nurkala Kalidasa karena dirasa sangat fenomenal dan monumental karena selain mempunyai nilai-nilai yang begitu mendalam dalam sajiannya lakon ini pun sangat digemari oleh para fans group wayang golek Panca Komara dari Karawang. Dengan adanya argumen diatas penelitian ini pun menggunakan teori Narratologi dari Mieke Ball, karena teori ini dirasa cocok untuk mengupas sebuah argumen-argumen dan nilai-nilai yang terkandung dalam lakon tersebut. Dengan begitu teori ini pun mampu menghasilkan sebuah temuan-temuan argumen yang mempunyai nilai-nilai religi, budaya, pendidikan, sosial maupun sastra lisan yang di adopsi dari bahasa kawi, Jawa, maupun Sansakerta. Kata Kunci : Lakon Carangan, Nurkala Kalidasa, Narratology.The play is the most important part in a puppet show or other performances. It is intended to emphasize the story in a show. In wayang golek, a puppeteer must master the play and also have a mainstay play that is highly controlled by the puppeteer, starting in terms of dialogue, monologue, dramatization, or mastery of the characters in the play. Because a famous puppeteer must have an icon to be known identically by his fans. The play in the wayang golek story can be called a masterful play of a dalang when it goes through a continuous appreciation process without feeling bored in watching or listening to it. This study discusses the carangan play by R.H Tjetjep Supriadi entitled Nurkala Kalidasa because it is considered phenomenal and monumental because apart from having deep values in its presentation, this play is also very popular with fans of the Panca Komara wayang golek group from Karawang. With the arguments above, this study also uses the theory of Narratology from Mieke Ball, because this theory is considered suitable to explore an argument and the values contained in the play. In this way, this theory is able to produce argument findings that have religious, cultural, educational, social and oral literary values adopted from the Kawi, Javanese, and Sanskrit languages. Keywords: Carangan play, Nurkala Kalidasa, Narratology

Copyrights © 2022






Journal Info

Abbrev

BuanaIlmu

Publisher

Subject

Computer Science & IT Economics, Econometrics & Finance Education Engineering Law, Crime, Criminology & Criminal Justice

Description

Buana Ilmu menerbitkan penelitian, metodologi dan studi kasus tentang semua bidang ilmu secara umum. Naskah ilmiah dalam jurnal ini mengandung data dan informasi yang memajukan ilmu pengetahuan secara umum dan penelitian yang nyata. ...