Kemampuan orang Timur mengenal Barat, mestinya, sama dengan kemampuan orang Barat mengenal Timur. Saling memahami secara timbal-balik, adalah konsekwensi langsung dari terjadinya globalisasi masa kini. Perjumpaan Timur dan Barat, atau menurut Djamaluddin alAfghani, Islam dan Barat, sudah sangat lama prosesnya. Hubungan budaya antara keduanya dapat diringkas menjadi tiga tingkat. Pertama, adalah hubungan semasa Timur berada di abad keemasannya, dengan kebudayaan atau peradaban Islamnya, ia berhasil memberikan pengaruh yang sangat kuat kepada Barat, sehingga Barat menjadi berbudaya. Semenjak dinasti Abbasi, kaum muslimin sudah mengembangkan sikap yang sangat terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan di luar lingkungan mereka. Ibn Rusyd, umpamanya saja, pernah mengemukakan pendapatnya, bahwa adalah kewajiban islamis bagi kaum muslimin untuk mempelajari buku-buku antik, klasik. Bila orang-orang Islam membaca buku-buku karya pemikir-pemikir yang lebih awal (Yunani) akan terdapatlah pemikiran-pemikiran para penulisnya secara menyeluruh. Jika di dalamnya ada sesuatu pemikiran yang berhubungan dengan kebenaran (mengandung kebenaran) kita harus mempertimbangkannya untuk diterima dan dikembangkan. Dan jika di dalamnya ada pemikiranpemikiran yang tidak mencerminkan kebenaran (bertentangan dengan kebenaran) kita himbau supaya berhati-hati terhadapnya, dan kalau perlu, kita tantang atau kita bantah.
Copyrights © 1993