Burhanuddin Daya
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Occidentalisme Burhanuddin Daya
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 53 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.053.93-107

Abstract

Kemampuan orang Timur mengenal Barat, mestinya, sama dengan kemampuan orang Barat mengenal Timur. Saling memahami secara timbal-balik, adalah konsekwensi langsung dari terjadinya globalisasi masa kini. Perjumpaan Timur dan Barat, atau menurut Djamaluddin al­Afghani, Islam dan Barat, sudah sangat lama prosesnya. Hubungan budaya antara keduanya dapat diringkas menjadi tiga tingkat. Pertama, adalah hubungan semasa Timur berada di abad keemasannya, dengan kebudayaan atau peradaban Islamnya, ia berhasil memberikan pengaruh yang sangat kuat kepada Barat, sehingga Barat menjadi berbudaya. Semenjak dinasti Abbasi, kaum muslimin sudah mengembangkan sikap yang sangat terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan di luar lingkungan mereka. Ibn Rusyd, umpamanya saja, pernah mengemukakan pendapatnya, bahwa adalah kewajiban islamis bagi kaum muslimin untuk mempelajari buku-buku antik, klasik. Bila orang-orang Islam membaca buku-buku karya pemikir-pemikir yang lebih awal (Yunani) akan terdapatlah pemikiran-pemikiran para penulisnya secara menyeluruh. Jika di dalamnya ada sesuatu pemikiran yang berhubungan dengan kebenaran (mengandung kebenaran) kita harus mempertimbangkannya untuk diterima dan dikembangkan. Dan jika di dalamnya ada pemikiran­pemikiran yang tidak mencerminkan kebenaran (bertentangan dengan kebenaran) kita himbau supaya berhati-hati terhadapnya, dan kalau perlu, kita tantang atau kita bantah.
Sepuluh Wasiat (Wahyu Allah dalam Perjanjian Lama dan Al-Qur’an) Burhanuddin Daya
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.052.92-117

Abstract

Yahudi, Nasrani dan Islam adalah tiga agama bersaudara kandung, berasal dari satu sulbi, sulbi Ibrahim. Tetapi kondisi hubungan sejarah ketiganya selalu dalam keadaan konfliks. Konfliks mereka bukan Cuma kontliks teologis, tapi juga ideologis, sosiologis dan kultural. Kondisi eksklusifisme dan intolerance, rasa curiga dan permusuhan, telah berpuluh abad mewarnai hubungan mereka, dan merupakan warisan sejarah yang masih tersisa sampai sekarang. Banyak faktor penyebab semuanya itu, salah satunya adalah klem yang sangat dominan dari masing-masing tentang otentisitas atau orisinalitas wahyu yang dimiliki sebagai dasar yang memiliki otoritas tertinggi, dan keabsolutan kebenaran masing-masing. Terjadi perebutan mati-matian dan tidak henti-hentinya untuk menempati posisi paling puncak oleh masing-masing sepanjang sejarah, semenjak ketiganya saling bersentuhan. Wahyu adalah isyarat atau petunjuk yang diturunkan Allah secara langsung kepada nabi-nabi-Nya, atau dengan perantaraan malaikat untuk kepentingan rnanusia mengenal Tuhan, Alam, Diri Sendiri, dan Niiai dalam hidup dan kehidupannya. Oleh sebab itu gagasan wahyu ini adalah menembus, mencerahkan dan memberi makna bagi seluruh realitas kongkrit, menjadi representasi peraturan sentral kaum yahudi, masehi dan Islam, serta mendominasi seluruh sejarah masyarakat yang tersentuh olehnya.