Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
No 40 (1990)

Dimansi Kebermaknaan dan Kearifan dalam Proses Receptionlearning dan Learning by Discovery

Sugeng Sugiono (State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
25 Nov 2022

Abstract

Pembaharuan dalam dunia pendidikan pada dewasa ini mencakup berbagai bidang aktivitas, rencana, metode serta merintis cara-cara baru sebagai langkah optimalisasi sistem non-verbal dan cara memanipulasi pengalaman belajar-mengajar di dalam maupun di luar kelas. Penekanan bidang pendidikan selanjutnya diletakkan pada metode belajar self discovery (menemukan secara mandiri) maupun belajar untuk problem solving (memecahkan masalah) di samping itu berkembang pula ketidakpuasan terhadap tehnik-tehnik belajar-mengajar yang hanya mengandalkan instruksi verbal saja. Teori dalam bidang pendidikan dewasa ini semakin cenderung untuk menerima asumsi-asumsi sebagai berikut: (a) Berbagai generalisasi yang disajikan kepada para siswa/mahasiswa tidak lain merupakan suatu bentuk produk dari suatu aktivitas problem-solving, dan  (b) Semua usaha untuk menguasai konsep-konsep dan proposisi-proposisi verbal tidak lain hanyalah merupakan belajar yang tak bermakna, kecuali bila siswa/mahasiswa telah memiliki pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh konstruksi verbal tersebut. Satu alasan yang dirasa cukup logis bagi sebab kegagalan dalam sistem  expository-teaching (pengajaran terbuka) dalam bentuk verbal adalah kenyataan masih banyaknya materi pokok bermakna yang disampaikan dengan menggunakan bentuk rote-learning (hafalan). Adapun alasan bahwa generalisasi konsep verbal diamati sebagai produk problem-solving maupun tehnik belajar menemukan sebelumnya adalah timbul dari teori belajar modern sebagai berikut: (a) Adanya kecenderungan para ahli psikologi pendidikan untuk menyamaratakan berbagai jenis dan kualitas proses belajar dalam satu model pengajaran sehingga semakin mengkaburkan perbedaan yang mendasar antara reception-learning (belajar secara reseptif) dengan learning by discovery (belajar menemukan) maupun antara belajar hapalan dengan belajar bermakna.  (b) Belum terdapatnya teori yang mapan tentang belajar verbal yang bermakna dan kecenderungan para ahli psikologi untuk menginterpretasikan belajar terhadap suatu materi, memerlukan waktu yang lama dan berdasar pada konsep yang sama. Oleh karena itu perlu digaris bawahi perbedaan antara belajar reseptif dengan  belajar menemukan dan antara belajar dengan hapalan dan belajar bermakna. Membedakan antara "reception" dan "discovery" dalam belajar itu penting, oleh karena pada umumnya pemahaman yang diperoleh siswa/mahasiswa di dalam maupun di luar kelas adalah dari "penyampaian" dan bukan dari yang "ditemukan". Karena materi/bahan pelajaran itu kebanyakan disampaikan secara verbal, maka semakin penting artinya untuk menilai peran belajar reseptif sebagai yang kita sebut dengan istilah "reception-learning" yang pada dasarnya tidaklah mesti dengan ciri hapalan, namun dapat juga dalam bentuk belajar bermakna (meaningful) tanpa harus didahului oleh pengalaman non-verbal dan problem solving. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi serta input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam meluruskan persepsi kita terhadap peran dan fungsi belajar reseptif melalui sistem pengajaran verbal dan langsung (directl).

Copyrights © 1990






Journal Info

Abbrev

AJIS

Publisher

Subject

Religion Humanities

Description

Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, ...