Sejak awal karirnya sebagai sastrawan Arab, Taha Husain telah menyuguhkan kritik-kritik sastra kontemporer yang cukup mencengangkan dunia sastra Arab pada umumnya. Hal tersebut cukup dibuktikan dengan banyaknya komentar dan tanggapan terhadap berbagai pemikiran dan karyanya. Taha Husain bukan saja sosok kritikus unggulan Mesir pada jamannya, namun juga dikenal sebagai sejarawan besar untuk sastra Mesir pada khususnya. Dari Sejarah Klasik yang ditekuni, Taha Husain kemudian beralih kepada Sastra Arab, yaitu dimulai pada tahun 1925, pada saat Universitas Mesir berubah statusnya menjadi universitas negeri. Di bawah bimbingan Taha Husain inilah, berawalnya satu periode di mana studi tentang Sastra Arab mulai menyemarak, seiring dengan munculnya tokoh-tokoh lain semisal Ahmad Amin, Abd al-Wahhab Azzam, Amin al-Khulli, Muhammad Khalafallah Ahmad dan Ahmad as Sayib yang juga melahirkan kritik-kritik sastra sejalan dengan semaraknya studi mengenai sastra pada umumnya. Sebagai penulis yang cukup prolifik, karya-karya Taha cukup banyak, baik yang berbentuk essay, historiografi, autobiografi, tulisan-tulisan fiksi, terjemahan, karya-karya kumpulan dan karya-karya kolaborasi. Taha Husain juga merupakan polemis andalan, terbukti ketika masih menjadi mahasiswa, dia telah dengan berani mempublikasikan sanggahannya yang cukup pedas terhadap gurunya, Al-Mahdi, dan juga terhadap Ar-Rafi, Yang terakhir ini juga tidak kalah serunya dalam membalas Taha Husain dengan jalan melontarkan kritikan terhadap karya Taha yang berjudul Fi asy-Syi' ir al Jahilly, terbitan tahun 1926. Taha Husein juga terlibat polemik dengan Zakki Mubarak, sekretarisnya dan dengan sastrawan-sastrawan kontemporer lainnya semacam Haykal, Taufiq al-Hakim, Mansur Fahmi, al-Aqqad dan al Mazini.