Sugeng Sugiono
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dimansi Kebermaknaan dan Kearifan dalam Proses Receptionlearning dan Learning by Discovery Sugeng Sugiono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 40 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.040.60-68

Abstract

Pembaharuan dalam dunia pendidikan pada dewasa ini mencakup berbagai bidang aktivitas, rencana, metode serta merintis cara-cara baru sebagai langkah optimalisasi sistem non-verbal dan cara memanipulasi pengalaman belajar-mengajar di dalam maupun di luar kelas. Penekanan bidang pendidikan selanjutnya diletakkan pada metode belajar self discovery (menemukan secara mandiri) maupun belajar untuk problem solving (memecahkan masalah) di samping itu berkembang pula ketidakpuasan terhadap tehnik-tehnik belajar-mengajar yang hanya mengandalkan instruksi verbal saja. Teori dalam bidang pendidikan dewasa ini semakin cenderung untuk menerima asumsi-asumsi sebagai berikut: (a) Berbagai generalisasi yang disajikan kepada para siswa/mahasiswa tidak lain merupakan suatu bentuk produk dari suatu aktivitas problem-solving, dan  (b) Semua usaha untuk menguasai konsep-konsep dan proposisi-proposisi verbal tidak lain hanyalah merupakan belajar yang tak bermakna, kecuali bila siswa/mahasiswa telah memiliki pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh konstruksi verbal tersebut. Satu alasan yang dirasa cukup logis bagi sebab kegagalan dalam sistem  expository-teaching (pengajaran terbuka) dalam bentuk verbal adalah kenyataan masih banyaknya materi pokok bermakna yang disampaikan dengan menggunakan bentuk rote-learning (hafalan). Adapun alasan bahwa generalisasi konsep verbal diamati sebagai produk problem-solving maupun tehnik belajar menemukan sebelumnya adalah timbul dari teori belajar modern sebagai berikut: (a) Adanya kecenderungan para ahli psikologi pendidikan untuk menyamaratakan berbagai jenis dan kualitas proses belajar dalam satu model pengajaran sehingga semakin mengkaburkan perbedaan yang mendasar antara reception-learning (belajar secara reseptif) dengan learning by discovery (belajar menemukan) maupun antara belajar hapalan dengan belajar bermakna.  (b) Belum terdapatnya teori yang mapan tentang belajar verbal yang bermakna dan kecenderungan para ahli psikologi untuk menginterpretasikan belajar terhadap suatu materi, memerlukan waktu yang lama dan berdasar pada konsep yang sama. Oleh karena itu perlu digaris bawahi perbedaan antara belajar reseptif dengan  belajar menemukan dan antara belajar dengan hapalan dan belajar bermakna. Membedakan antara "reception" dan "discovery" dalam belajar itu penting, oleh karena pada umumnya pemahaman yang diperoleh siswa/mahasiswa di dalam maupun di luar kelas adalah dari "penyampaian" dan bukan dari yang "ditemukan". Karena materi/bahan pelajaran itu kebanyakan disampaikan secara verbal, maka semakin penting artinya untuk menilai peran belajar reseptif sebagai yang kita sebut dengan istilah "reception-learning" yang pada dasarnya tidaklah mesti dengan ciri hapalan, namun dapat juga dalam bentuk belajar bermakna (meaningful) tanpa harus didahului oleh pengalaman non-verbal dan problem solving. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi serta input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam meluruskan persepsi kita terhadap peran dan fungsi belajar reseptif melalui sistem pengajaran verbal dan langsung (directl).
Taha Husain Pandangan dan Teorinya Tentang Puisi Arab Jahiliah Sugeng Sugiono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 44 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.044.1-21

Abstract

Sejak awal karirnya sebagai sastrawan Arab, Taha Husain telah menyuguhkan kritik-kritik sastra kontemporer yang cukup mencengangkan dunia sastra Arab pada umumnya. Hal tersebut cukup dibuktikan dengan banyaknya komentar dan tanggapan terhadap berbagai pemikiran dan karyanya. Taha Husain bukan saja sosok kritikus unggulan Mesir pada jamannya, namun juga dikenal sebagai sejarawan besar untuk sastra Mesir pada khususnya. Dari Sejarah Klasik yang ditekuni, Taha Husain kemudian beralih kepada Sastra Arab, yaitu dimulai pada tahun 1925, pada saat Universitas Mesir berubah statusnya menjadi universitas negeri. Di bawah bimbingan Taha Husain inilah, berawalnya satu periode di mana studi tentang Sastra Arab mulai menyemarak, seiring dengan munculnya tokoh-tokoh lain semisal Ahmad Amin, Abd al-Wahhab Azzam, Amin al-Khulli, Muhammad Khalafallah Ahmad dan Ahmad as Sayib yang juga melahirkan kritik-kritik sastra sejalan dengan semaraknya studi mengenai sastra pada umumnya. Sebagai penulis yang cukup prolifik, karya-karya Taha cukup banyak, baik yang berbentuk essay, historiografi, autobiografi, tulisan-tulisan fiksi, terjemahan, karya-karya kumpulan dan karya-karya kolaborasi. Taha Husain juga merupakan polemis andalan, terbukti ketika masih menjadi mahasiswa, dia telah dengan berani mempublikasikan sanggahannya yang cukup pedas terhadap gurunya, Al-Mahdi, dan juga terhadap Ar-Rafi, Yang terakhir ini juga tidak kalah serunya dalam membalas Taha Husain dengan jalan melontarkan kritikan terhadap karya Taha yang berjudul Fi asy-Syi' ir al Jahilly, terbitan tahun 1926. Taha Husein juga terlibat polemik dengan Zakki Mubarak, sekretarisnya dan dengan sastrawan-sastrawan kontemporer lainnya semacam Haykal, Taufiq al-Hakim, Mansur Fahmi, al-Aqqad dan al Mazini.