Diskusi tentang Orientalisme dan Oksidentalisme dikalangan intelektual Islam bukan suatu yang asing akan tetapi segera akan terasakan, bahwa Orientalisme dan Oksidentalisme tidak selalu dihayati dalam citra yang sama, dipahami menurut pengertian yang sama, atau dibicarakan dengan memakai idiom-idiom yang sama. Perbedaanperbedaan ini selain menyangkut variasi dalam aksentuasi juga melibatkan perbedaan logika, baik yang menyangkut kerangka konseptual, maupun berkenaan dengan lingkup minat dan kepentingan masing-masing. Persoalan akan timbul dan perbedaan akan terasa jika Orientalisme dan Oksidentalisme tidak sekedar dipandang sebagai suatu kajian ilmiah, tetapi dihadapkan sebagai "objektif'. Orientalisme dan Oksidentalisme sebagai kenyataan objektif, bagaimana keduanya didefinisikan? Adakah prasangka yang membayangi? Perlu dikemukakan terlebih dahulu, bahwa tulisan ini ingin mengambil posisi problematis, dan yang diusahakan disini adalah mencari agenda persoalan. Siapa tabu, posisi yang demikian itu akan lebih mengacu respons dan kritik yang akan berguna bagi kita. Pada jaman mutakhir ini Iiteratur keislaman dibanjiri oleh bahan-bahan dalam berbagai bahasa Barat yang kaya. Negeri-negeri Muslim bekas jajahan Inggris misalnya, kini sangat produktif dengan karya-karya penting. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi kaum Muslim yang tidak mengenal bahasa Inggris, dan bisa menjadi sebab semakin melebamya jurang intelektual antara yang tersebut terakhir ini dengan yang pertama. Jadi merupakan tantangan metodologis tersendiri bagi mereka dalam kajian keislaman.
Copyrights © 1993