M Muzairi
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pokok-Pokok Pikiran dalam Manifesto Humanisme M Muzairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.53-65

Abstract

Barangkali kita akan merasa bingung, kalua diajak untuk mendefinisikan humanism, tetapi yang pasti ialah istilah ini mempunyai suatu nada yang simpatik. Istilah ini nampaknya menampilkan suatu dunia penuh dengan konsep-konsep penting, seperti “humanum”(yang manusiawi), martabat manusia, perikemanusiaan, hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Biarpun seringkali belum diketahui bagaimana persisnya merumuskan secara persis definisinya, namun bagi humanism bukan suatu yang asing.setelah pasca perang dunia ke II selesai humanism dijunjung tinggi sebagai suatu faham alternatif yang dianggap cocok untuk mengungkapkan cita-cita dunia baru diatas puing-puing material dan social yang ditinggalkan oleh perang itu. Eksistensialisme, aliran filosofis yang cukup terkenal setelah perang duania ke II mengeklim dirinya secara humanism, maka Jean Paul Satre menulis buku yang berjudul Existensialisme and Humanism. Dari pihak Kristen pun diadakan percobaan untuk mengeklaim nama Humanisme. Sesudah tahun tiga puluhan pemikir-pemikir Kristen di Prancis berusaha untuk mengerti dan merumuskan pandangan agama Kristen sebagai Humanisme, sebagai reaksi atas humanism sosialis yang pada waktu itu dilontarkan oleh pihak Komunisme. Buku yang berjudul Humanism Intergran yang terbit pada tahun 1936 yang ditulis oleh Jacques Maritain dan seorangtokoh Neothomisme mengungkapkan pendiriannya, bahwa Humanisme Kristiani dapat dipandan sebagai sintesa yang paling baik dari unsur-unsur humanistis yang tampak sepanjang, dari humanism klasik dijaman Renaisssance sampai dengan humanism Marxistis. Sesudah perang dunia ke II Humanisme Kristiani terutama diwakili oleh Imanual Mounier dan kawan-kawannya dilingkungan majalah ESPRIT. Sekalipun ia menyebutkan pendiriannya dengan nama lain, yaitu personalisme, namun Mounier personalisme pada dasarnya sinonim dengan humanism.
Orientalisme dan Oksidentalisme (Suatu Agenda Masalah) M Muzairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 53 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.053.27-33

Abstract

Diskusi tentang Orientalisme dan Oksidentalisme dikalangan intelektual Islam bukan suatu yang asing akan tetapi segera akan terasakan, bahwa Orientalisme dan Oksidentalisme tidak selalu dihayati dalam citra yang sama, dipahami menurut pengertian yang sama, atau dibicarakan dengan memakai idiom-idiom yang sama. Perbedaan­perbedaan ini selain menyangkut variasi dalam aksentuasi juga melibatkan perbedaan logika, baik yang menyangkut kerangka konseptual, maupun berkenaan dengan lingkup minat dan kepentingan masing-masing. Persoalan akan timbul dan perbedaan akan terasa jika Orientalisme dan Oksidentalisme tidak sekedar dipandang sebagai suatu kajian ilmiah, tetapi dihadapkan sebagai "objektif'. Orientalisme dan Oksidentalisme sebagai kenyataan objektif, bagaimana keduanya didefinisikan? Adakah prasangka yang membayangi? Perlu dikemukakan terlebih dahulu, bahwa tulisan ini ingin mengambil posisi problematis, dan yang diusahakan disini adalah mencari agenda persoalan. Siapa tabu, posisi yang demikian itu akan lebih mengacu respons dan kritik yang akan berguna bagi kita. Pada jaman mutakhir ini Iiteratur keislaman dibanjiri oleh bahan-bahan dalam berbagai bahasa Barat yang kaya. Negeri-negeri Muslim bekas jajahan Inggris misalnya, kini sangat produktif dengan karya-karya penting. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi kaum Muslim yang tidak mengenal bahasa Inggris, dan bisa menjadi sebab semakin melebamya jurang intelektual antara yang tersebut terakhir ini dengan yang pertama. Jadi merupakan tantangan metodologis tersendiri bagi mereka dalam kajian keislaman.