Barangkali kita akan merasa bingung, kalua diajak untuk mendefinisikan humanism, tetapi yang pasti ialah istilah ini mempunyai suatu nada yang simpatik. Istilah ini nampaknya menampilkan suatu dunia penuh dengan konsep-konsep penting, seperti “humanum”(yang manusiawi), martabat manusia, perikemanusiaan, hak-hak asasi manusia dan lain sebagainya. Biarpun seringkali belum diketahui bagaimana persisnya merumuskan secara persis definisinya, namun bagi humanism bukan suatu yang asing.setelah pasca perang dunia ke II selesai humanism dijunjung tinggi sebagai suatu faham alternatif yang dianggap cocok untuk mengungkapkan cita-cita dunia baru diatas puing-puing material dan social yang ditinggalkan oleh perang itu. Eksistensialisme, aliran filosofis yang cukup terkenal setelah perang duania ke II mengeklim dirinya secara humanism, maka Jean Paul Satre menulis buku yang berjudul Existensialisme and Humanism. Dari pihak Kristen pun diadakan percobaan untuk mengeklaim nama Humanisme. Sesudah tahun tiga puluhan pemikir-pemikir Kristen di Prancis berusaha untuk mengerti dan merumuskan pandangan agama Kristen sebagai Humanisme, sebagai reaksi atas humanism sosialis yang pada waktu itu dilontarkan oleh pihak Komunisme. Buku yang berjudul Humanism Intergran yang terbit pada tahun 1936 yang ditulis oleh Jacques Maritain dan seorangtokoh Neothomisme mengungkapkan pendiriannya, bahwa Humanisme Kristiani dapat dipandan sebagai sintesa yang paling baik dari unsur-unsur humanistis yang tampak sepanjang, dari humanism klasik dijaman Renaisssance sampai dengan humanism Marxistis. Sesudah perang dunia ke II Humanisme Kristiani terutama diwakili oleh Imanual Mounier dan kawan-kawannya dilingkungan majalah ESPRIT. Sekalipun ia menyebutkan pendiriannya dengan nama lain, yaitu personalisme, namun Mounier personalisme pada dasarnya sinonim dengan humanism.