Mengambil inspirasi dari kitab suci untuk menulis karya sastra merupakan hal yang banyak dilakukan orang. Dalam pidato-pidato dan pembuatan puisi, misalnya, orang Arab banyak melakukan apa yang disebut iqtibas dari al-Qur'an, yang tidak hanya mengambil ide tetapi juga ungkapan dari kitab suci ini. Tidak banyak timbul persoalan dengan iqtibs ini manakala pengambilan itu tidak merusak ajaran Islam, namun akan lain akibatnya kalau pengambilan itu dirasakan menghina atau menghujat agama. Kasus "plesetan" terhadap istilah-istilah keagamaan (dalam hal ini Islam) yang pernah muncul dalam satu acara yang diselenggarakan mahasiswa dari perguruan tinggi tertentu di Yogyakarta dan pengajuan pelakunya ke pengadilan merupakan bukti bahwa pengambilan teks agama secara salah dapat menimbulkan masalah karena dianggap menghina agama, walaupun mungkin tanpa ada niat penghinaan dari pelakunya. Novel Najib Mahfz (selanjutnya disingkat NM) yang berjudul Awlad Haratin berceritera tentang "sejarah" para penghuni kampung kita dengan segala intrik, kejahatan clan keculasan mereka disamping percikan-percikan usaha perbaikan di sana-sini. Ada lima tokoh utama yang diceriterakan dalam lima bagian buku ini dengan masing-masing meoghabiskan sekitar seratus halaman. Mereka adalah Adham, Jabal, Rifa'ah, Qasim clan Arafah yang diceriterakan secara berurutan dan masing-masing menjadi judul bab. Dalam kata pengantar buku ini NM dengan tegas mengatakan bahwa ceritera tentang kampung kita itu tidak disaksikannya sendiri selain pada fasenya yang terakhir, yakni fase Arafah. Dikatakan oleh NM, ia hidup semasa dengan masa hidup Arafah clan menyaksikan kisah perjalanan hidup tokoh terakhir ini.
Copyrights © 1994