Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
No 60 (1997)

The Image of The Prophet In Ibn Sīnā’s Thought

Fatimah Husein (State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
18 Aug 2022

Abstract

Artikel ini menganalisa gambaran tentang Nabi Muhammad dalam pandangan salah seorang filosof Muslim terbesar, Ibn Sinā. Penelitian tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan pemikiran tersebut secara menyeluruh sebagaimana yang dapat kita temukan dalam karya-karya lbn Sinā, tetapi hanya dibatasi pada dua karyanya, yaitu Fī Ithbāt al-Nubuwwat  dan Metaphysics x (al-Ilāhiyyāt) dalam at-shifā’,dengan merujuk pada beberapa tulisannya yang terkait. Kedua karya tersebut menyajikan dua ekspresi yang berbeda atas Nabi. Dalam karyanya yang pertama, Ibn sinā menggunakan terma-terma yang sangat filosofis untuk menggambarkan sosok Muhammad, walaupun dia juga tidak menafikan bahasan agamis. Memang benar bahwa tujuan ditulisnya risalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan seseorang tentang argumentasi logis dan bukti dialektis atas eksistensi Nabi sehingga terkesan bahwa bisa jadi Ibn Slna sendiri tidak percaya akan bukti atas kenabian secara filosofis. Tetapi jika kita cermati lebih jauh, kondisi Ibn Sinā sendiri sebagai Muslim yang sekaligus seorang filosof sebenarnya ikut membentuknya untuk menghadirkan gambaran tentang Muhammad secara filosofis sekaligus Islamis. Gambaran Nabi sebagai seorang manusia biasa yang memiliki kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dan sebagai pemelihara hukum Allah bagi kesejahteraan manusia nampak secara jelas dalam karyanya yang kedua. Dengan merujuk pada kehidupan sosial, Ibn Sinā menggambarkan bahwa Muhammad harus menentukan hukuman dan larangan untuk mencegah ketidak taatan terhadap hukum Tuhan, serta membina kehidupan moral. Jelaslah bahwa figur Nabi di sini digambarkan secara lebih relijius. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa sosok Muhammad muncul secara berbeda pada dua risalah tersebut. Kita melihat bahwa definisi tradisional tentang peran Nabi tidak dapat memuaskan Ibn Sinā sebagai seorang filosof, sehingga dalam tulisan yang pertama ia lebih menghadirkan figur Muḥammad secara filosofis. Dalam tulisan kedua" nampak bahwa sebenarnya Ibn Sinā tidak dapat melepaskan diri dari kenyataannya sebagai seorang Muslim, sehingga ia perlu menjelaskan pada dirinya sendiri dan pada ummat Islam pada umumnya tentang peran Nabi sebagai seorang pemimpin sosial. Terlebih lagi lingkungan Islamnya "memaksa" Ibn Sinā untuk mengharmoniskan antara penyelidikan rasionalnya dengan ajaran-ajaran Islam.

Copyrights © 1997






Journal Info

Abbrev

AJIS

Publisher

Subject

Religion Humanities

Description

Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, ...