Tahun 2015, beberapa wilayah di Indonesia mengalami kekeringan yang bertepatan dengan munculnya fenomena El Nino. Kekeringan di Indonesia diikuti oleh kebakaran hutan mengakibatkan perkebunan kelapa sawit di Jambi tertutup oleh kabut asap. Fenomena kebakaran hutan berdampak besar pada pelemahan radiasi matahari yang masuk ke permukaan bumi akibat tertutupnya atmosfer oleh kabut asap yang cukup tebal sehingga berpengaruh terhadap produksi primer dan evapotranspirasi kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan menganalisis intensitas kabut asap berdasarkan radiasi hambur dan menganalisis hubungan serta pola GPP dan evapotranspirasi terhadap radiasi hambur pada saat terjadi kabut asap di tahun 2015. Konsentrasi PM10 sebagai representase aerosol di atmosfer terhadap transmisivitas atmosfer berkorelasi negatif dengan r = -0,8 dan p-value = 0,0016. Tingginya radiasi hambur berbanding lurus dengan kondisi atmosfer yang tertutup oleh kabut asap. Saat tutupan kabut asap di atmosfer sedang mencapai puncaknya di bulan Oktober 2015, sebagian besar radiasi matahari yang masuk adalah radiasi hambur. Fraksi difus dengan GPP dan evapotranspirasi juga berkorelasi negatif atau berbanding terbalik. Keduanya memiliki hubungan yang signifikan dengan p-value < 0,05 dan r = -0,93 untuk GPP dan r = -0,88 untuk evapotranspirasi. Berdasarkan besarnya koefisien korelasi, radiasi difus dengan GPP memiliki hubungan yang lebih erat dibandingkan dengan evapotranspirasi.
Copyrights © 2022