The administration of a country is divided into several parts to facilitate optimal regulation of a region. Kelurahan Merjosari is one of the areas given autonomous rights by the government to take care of its governmental affairs, to achieve equal welfare for the people of Merjosari. The area of Merjosari village is divided into several hamlets, each hamlet has a naming history according to the history that developed in the area. One of them is the Nggandul hamlet, whose name is related to the high mortality rate in the community in the 1970s by hanging. This behavior is based on several factors, one of which is psychological pressure due to trauma from the G30S / PKI tragedy. The research used a descriptive qualitative approach with data collection techniques, namely heurustics, interview, and literature review.Pelaksaanan administrasi suatu negara, dibagi menjadi beberapa bagian guna mempermudah pengaturan suatu wilayah secara optimal. Kelurahan Merjosari menjadi salah satu wilayah yang diberi hak otonom oleh pemerintah untuk mengurus urusan pemerintahannya sendiri, demi tercapainya kesejahteraan yangmerata bagi masyarakat Merjosari. Wilayah kelurahan Merjosari terbagi dalam beberapa dusun, setiap dusun memiliki sejarah penamaan sesuai dengan sejarah yang berkembang di wilayah tersebut. Salah satunya adalah dusun Nggandul yang sejarah penamaanya dikaitakan dengan tingginya angka kematian masyarakat pada tahun 1970-an dengan cara gantung diri. Perilaku ini didasari oleh beberapa faktor, salah satunya tekanan psikis akibat trauma dari tragedi G30S/PKI. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data adalah heurustik, wawancara, dan kajian pustaka.
Copyrights © 2021