Tingginya kematian bayi pada usia 28 hari pertama hingga satu tahun menunjukkan masih rendahnya kualitas sektor Kesehatan nasional. Penyebab utama kematian neonatal di Indonesia adalah BBLR, asfiksia, tetanus, angka tersebut cukup memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir. Asfiksia berkaitan dengan morbiditas jangka panjang yaitu retardasi mental, cerebral palsy dan terjadinya gangguan belajar pada bayi yang dihubungkan dengan faktor risiko salah satunya adalah umur kehamilan dan berat badan lahir bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ketuban pecah dini dan hipertensi dalam kehamilan terhadap kejadian asfiksia neonatorum Di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi. Metode penelitian menggunakan survey analitik dengan pendekatan retrospektif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bayi baru lahir di RSUD Abdul Manap Kota Jambi tahun 2021 yang berjumlah 105 bayi. Teknik pengambilan sampel dengan lottery technique yaitu 105 orang. Analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia neonatorum (p=0,000, OR = 3) dan hipertensi dalam kehamilan (p=0,000, OR = 2) terhadap kejadian asfiksia neonatorum Di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi. Ibu bersalian yang mengalami ketuban pecah dini beresiko tiga kali lebih tinggi bayinya mengalami asfiksia neonatorum, sedangkan ibu dengan hipertensi dalam kehamilan memiliki resiko 2 kali lebih tinggi bayinya mengalami asfiksia neonatorum Di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi.
Copyrights © 2022