AbstrakKota Bandung merupakan wilayah yang memiliki jumlah kasus demam berdarah dengue paling tinggi di Provinsi Jawa Barat tahun 2017-2021. Tingginya kasus DBD di Kota Bandung memerlukan kajian untuk mengidentifikasi penanganan penyakit tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melakukan kajian distribusi spasial kasus DBD di Kota Bandung dengan unit analisis wilayah kecamatan sehingga dapat dilakukan penanganan sesuai dengan karakteristik kecamatan di Kota Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola spasial kejadian penyakit DBD di Kota Bandung tahun 2017- 2021. Penelitian ini menggunakan data kasus DBD yang diperoleh dari Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017-2021. Analisis data autokorelasi spasial global pada penelitian ini menggunakan Moran’s I dan autokorelasi spasial lokal menggunakan Local Moran’s I dengan pembobotan spasial queen contiguity weight. Analisis data menggunakan aplikasi open source GeoDa 1.20.0.8. Hasil analisis autokorelasi spasial global, kejadian DBD memiliki pola mengelompok dan memiliki autokorelasi positif. Hasil analisis autokorelasi spasial lokal diperoleh 3 kecamatan yang termasuk dalam kuadran I (high-high) lebih dari 1 kali periode tahun yaitu Kecamatan Kiaracondong, Kecamatan Buahbatu dan Kecamatan Antapani. Selain itu, terdapat 2 kecamatan yang berada pada kuadran II (low-high) lebih dari 1 kali periode tahunan yaitu Kecamatan Mandalajati dan Kecamatan Cidadap. Dinas Kesehatan Kota Bandung agar membuat penetapan wilayah prioritas penanganan DBD di Kota Bandung serta berkolaborasi dengan lintas sektor untuk pemberdayaan masyarakat dalam program pemberantasan sarang nyamuk dan jentik nyamuk.Kata Kunci : DBD, autokorelasi spasial global, autokorelasi spasial lokal.
Copyrights © 2022