Penerapan program CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability) merupakan salah satu upaya untuk memberikan garansi kepada pengunjung destinasi wisata bahwa destinasi wisata dan sarana prasarana pelayanannya sudah aman karena telah menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan sehingga aman untuk dikunjungi. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan perilaku wisatawan yang mengindahkan aturan dalam penerapan program CHSE. Oleh karena itu mengidentifikasi faktor-faktor penting yang mempengaruhi aspek manajemen/tata kelola dalam rangka peningkatan kinerja implementasi CHSE di Surabaya dimana wisatawan menilai prioritas dan urgent dilaksanakan tetapi realitanya tidak sesuai harapan menjadi tujuan penelitian ini. Metode pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner tertutup terhadap wisatawan yang pernah berkunjung di Surabaya sebagai destinasi pada masa pandemi. Metoda analisis yang digunakan adalah Analisis Statistik Deskriptif dan Gap Analysis. Gap Analysis dimaksudkan untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara kepuasan wisatawan saat melakukan wisata di Surabaya dengan harapan konsumen/wisatawan terhadap variabel tersebut. Gap Analysis juga merupakan bagian dari metode IPA (Importance-Peformance Analysis). Hasil dari penelitian ini diketahui terdapat 4 faktor yang perlu diprioritaskan yaitu (1) Pengelola melaksanakan pengecekan bukti/sertifikat vaksin; (2) Pengelola memfasilitasi media informasi mengenai himbauan tertulis tata tertib atau etika yang perlu diterapkan selama berwisata misalnya tidak berkerumun, etika bersin, dll; (3) Pengelola menyediakan fasilitas/sarana informasi penggunaan aplikasi peduli lindungi atau lainnya yang relevan; dan (4) Pengelola memfaslitasi layanan pendaftaran secara online via internet atau media daring lainnya, serta pemungutan biaya tiket masuk dilakukan secara non-tunai untuk meminimalisir kerumunan dan kontak fisik.
Copyrights © 2022