Fenomena ekranisasi diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ekranisasi dapat menjadi sarana memperkenalkan dan menyebarluaskan sebuah karya kepada khalayak. Di sisi lain, ekranisasi dapat memberikan ketidakpuasan kepada kalangan yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap karya sastra yang mengalami proses ekranisasi. Fenomena ekranisasi sangat laris di kancah perfilman Indonesia. Penyesuaian film hasil ekranisasi dengan pasar yang dituju memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam perjalanannya. Salah satu film yang merupakan ekranisasi atau adaptasi dari karya sastra adalah film berjudul “Sang Penari” (2011). Film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah ini merupakan film yang bersumber dari novel trilogi karya Ahmad Tohari berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” (1982). Penelitian ini selain berusaha untuk memaparkan, mengklasifikasikan, dan menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi akibat proses ekranisasi, juga mencoba untuk menjelaskan reduksi konflik batin yang dialami Rasus dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” dan film “Sang Penari”. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori dari George Bluestone dalam bukunya yang berjudul “Novels Into Film” tentang penambahan (additions), pengurangan (subtractions), dan penghapusan (deletions). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penambahan, pengurangan, penghilangan, dan reduksi konflik batin tokoh Rasus dalam proses ekranisasi novel Ronggeng Dukuh Paruk. Penelitian ini diharapkan dapat membuka peta penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan konflik batin tokoh Rasus.
Copyrights © 2022