Sebagai seorang salah satu pemimpin bangsa Asia Afrika yang terkemuka di masa lalu, Sukarno mengambil peran penting dalam diplomasi internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sukarno tentu saja memiliki harapan yang besar akan kehadiran PBB di dalam sistem internasional. Para sarjana liberal internasionalisme meyakini bahwa institusi internasional merupakan sarana fundamental yang dapat mencegah terjadinya perang besar. Kendati demikian, peran dan fungsi PBB sebagai mediator perdamaian seringkali tidak berjalan dengan semestinya. Artikel ini menganalisis pemikiran Sukarno mengenai fungsi institusi internasional. Dalam artikel ini, penulis menempatkan pemikiran Sukarno dalam konteks perdebatan teori hubungan internasional mengenai institusi dalam pendekatan realisme dan utopia liberalisme. Data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini berasal dari arsip, surat kabar dan buku yang diterbitkan antara 1950-1960’an. Penulis berargumen bahwa Sukarno melihat PBB sebagai institusi internasional melalui pendekatan realisme yang kritis terhadap visi institusi internasional. Pendekatan realis yang dimiliki Sukarno dalam menempatkan negara dan kepentingan nasional sebagai tujuan utama dalam berpartisipasi di PBB. Sukarno melihat bahwa sistem internasional terdiri dari anarki dimana setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing (self-interest) untuk bertahan.
Copyrights © 2022