This study aims to describe the motives of the persona of the main characters of the short stories "Ndara Mat Amit" and "Mbah Sidiq" by A. Mustofa Bisri;and what are the implications for children's moral education. The approach used in this study is the psychoanalysis of C.G. Jung, especially with regard to the act of persona. With regard to its implications in moral education, it is based on Lickona's opinion related to the importance of strategies and children's involvement in the material (reading) used. The results showed that Ndara Mat Amit acted impolite and rude persona with a motive so that his glory was not known to the public so that it could be accepted by traditional society. As a pious man who was of the Prophet Muhammad saw, he did not want to be deified, let alone cult. In addition, Ndara Mat Amit does not want to be used and co-opted by politicians who are hungry for power. Meanwhile, Mbah Sidiq acts as a pious and pious person solely to indulge worldly desires, greed. He thought that wealth would always go hand in hand with happiness and power. The implication in moral education is to discuss with children the parts where there are moral dilemmas. The teacher guides the child to be involved in the events contained in the reading. Children are asked to find answers and/or solutions to the events contained in the reading. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif tindak persona tokoh utama cerpen “Ndara Mat Amit” dan “Mbah Sidiq” karya A. Mustofa Bisri; dan bagaimana implikasinya dalam pendidikan moral anak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah psikoanalisis C.G. Jung, khususnya yang terkait dengan tindak persona. Berkenaan dengan implikasinya dalam pendidikan moral, digunakan pendapat Lickona yang terkait dengan pentingnya strategi dan keterlibatan anak pada materi (bacaan) yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ndara Mat Amit bertindak persona tidak santun dan kasar dengan motif agar kemuliaan dirinya tidak diketahui masyarakat sehingga dapat diterima oleh masyarakat tradisional. Sebagai seorang alim yang yang bertrah Nabi Muhammad saw., dia tidak ingin didewa-dewakan apalagi dikultuskan. Selain itu, Ndara Mat Amit tidak mau dimanfaatkan dan terkooptasi oleh politikus yang haus kekuasaan. Sementara itu, Mbah Sidiq bertindak persona alim dan linuwih semata-mata untuk memperturutkan syahwat keduniawian, nafsu keserakahan. Dia berpikir bahwa kekayaan akan selalu bersanding dengan kebahagiaan dan kekuasaan. Implikasi dalam pendidikan moralnya dapat dilakukan dengan mengajak anak mendiskusikan bagian-bagian yang memuat dilema pesan moral. Pendidik memandu agar anak terlibat ke dalam peristiwa yang terdapat dalam bacaan. Anak diminta untuk menemukan jawaban dan/atau jalan keluar atas peristiwa yang terdapat dalam bacaan.
Copyrights © 2021