Artikel ini bertujuan menganalisa faktor di balik keputusan Rusia untuk menyerang Ukraina dalam Perang Rusia-Ukraina 2022. Rusia dan Ukraina, dua negara dengan relasi yang bercirikan ketegangan dan permusuhan, menghadapi peningkatan ketegangan saat Rusia melaksanakan dua penempatan kekuatan militer di dekat Ukraina antara April 2021 hingga Februari 2022. Meski ada pendapat bahwa Rusia tidak berniat melancarkan aksi militer, Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari 2022. Untuk menganalisa masalah tersebut, artikel ini mengimplementasikan teori Deteren Konvensional Mearsheimer sebagai kerangka analisa. Deteren Konvensional menyatakan eskalasi krisis menjadi perang bergantung keberhasilan atau kehahalan deteren terhadap negara penyerang dari negara bertahan. Deteren kemungkinan gagal jika penyerang memiliki keunggulan militer kuantitatif, persenjataan kedua pihak didominasi senjata ofensif, dan penyerang mempersepsikan bisa berhasil melancarkan perang blitzkrieg. Sesuai dengan teori tersebut, artikel ini menemukan Rusia secara umum memiliki keunggulan personil dan materiil lebih dari tiga-banding-satu dibandingkan dengan Ukraina. Selain itu, militer Rusia dan Ukraina didominasi senjata dengan kapabilitas ofensif yang digunakan secara ofensif, termasuk pesawat udara tanpa awak, rudal jarak jauh, dan artileri berat. Terakhir, kalangan keamanan nasional Rusia mempersepsikan bahwa perang blitzkrieg dapat dilancarkan di Ukraina.
Copyrights © 2022