Untuk mengisi Ramadlan, banyak kegiatan dilakukan diantaranya sholat tarawih dan witir berjama’ah lalu ditutup dengan kuliah tujuh menit dengan tema tertentu juga tadarus al-Quran (membaca al-Quran secara bergilir untuk mengkhatamkannya dalam periode waktu tertentu). Berbagai kegiatan ini bertujuan untuk memaksimalkan Ramadlan dengan hal positif terutama dalam peningkatan kualitas ibadah dan pendalaman pemahaman agama. Upaya ini dianggap urgen, mengingat tantangan ke depan yang dihadapi umat Islam terutama puasa pada bulan Ramadlan sangat komplek dan beragam serta semakin banyak bertebaran di sekeliling mereka. Diantaranya godaan untuk berbuka puasa lebih cepat dari ketentuan agama. Karena itu perlu upaya antisipasi, pengokohan keyakinan dan penguatan benteng pertahanan iman untuk tetap menjalankan kewajiban agama meskipun ujian datang bertubi-tubi dan begitu dekat dengan lingkungan mereka. Dari intensitas kuliah tujuh menit itu secara kualitas, ibadah jama’ah sudah mengalami peningkatan dari sudut pandang kajian fiqh dengan indikator sebagai berikut : jama’ah penuh kesadaran menempati shof tanpa harus imam mengatur atau petugas khusus yang menentukan di mana posisi seseorang ketika sholat, kesadaran ketertiban shof sebagai bagian penunjang kesempurnaan sholat mulai tertanam. Di sela-sela jama’ah menunggu kehadiran imam mereka menunaikan sholat tahiyyatal masjid, kemudian berniat i’tikaf dilanjutkan dengan dzikir sirri ataupun membaca al-Qur’an, hal itu sangat mudah kita jumpai. Pemandangan ini tidak akan kita dapatkan sebelum adanya kegiatan pendalaman agama melalui Kuliah Tujuh Menit (Kultum) setiap selepas sholat Tarawih sebelum Witir. Indikator-indikator keberhasilan program ini semoga menjadi semacam pertimbangan untuk mengistiqomahkan program serupa pada Ramadlan tahun depan, 1443 H, tentunya dengan sentuhan inovasi dan kreatifitas sesuai dengan nafas zamannya. Amien.
Copyrights © 2021