Karya tafsir berbahasa Indonesia pertama yang pernah ditulis oleh orang Indonesia sendiri adalah tafsir Quran Karim yang ditulis oleh Mahmud Yunus. Karya tafsir yang ditulis oleh Mahmud Yunus ini tidak sepopuler tafsir al-Azhar yang ditulis oleh Hamka, atau kitab tafsir al-Nur karya T.M. Hasbi ash-Shiddiqy, serta kitab tafsir al-Misbah karya M.Quraish Shihab. Pada umumnya, sebuah karya tafsir selalu memiliki kecenderungan dengan orientasi-orientasi tertentu. Seorang Mufasir dengan latar belakang faham Mu’tazilah, tentu orientasi penafsirannya selalu berlandaskan kepada ajaran Mu’tazilah. Demikian pula mufasir dari kalangan Asy’ariyah sudah barang tentu penafsirannnya cenderung mengambil faham dari alirannya. Artikel ini hendak menelusuri bagaimana pandangan Mahmud Yunus tentang penggunaan kisah-kisah Israiliyat dijadikan sebagai salah satu sumber tafsir. Selain itu artikel ini ingin juga menelusuri orientasi penafsiran dari seorang Mahmud Yunus dalam karya tafsirnya Quran karim. Pada kenyataannya, Mahmud Yunus ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an selalu mengedepankan dan menjaga sikap ukhuwah Islamiyah. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur’an ditafsirkan dengan mengambil berbagai macam pendapat dari aliran atau faham dalam Islam.
Copyrights © 2022