Di Kota Batam, keberadaan barang-barang bekas ini mampu menunjang perekonomian sebagian masyarakat. Permasalahannya adalah; faktor apa saja yang mendorong masyarakat Kota Batam berminat membeli barang-barang bekas; Apakah Masyarakat Kota Batam tidak khawatir dengan dampak dari pemakaian barang-barang bekas; Dan seperti apa proses jual beli barang bekas ini berlangsung? Penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Alasan pendekatan ini dipilih karena kurangnya pengetahuan yang menyangkut faktor spesifik dan hubungan antar faktor yang mencakup proses perubahan perilaku aktivitas fisik dalam hal ini aktivitas membeli barang-barang bekas. Peneliti mengambil lokasi di Kota Batam tetapi hanya pada 9 dari 12 kecamatan, karena lokasi ini didominasi oleh keberadaan penjual barang-barang bekas terutama jenis pakaian, sepatu, tas, barang keperluan rumah tangga, elektronik, furniture, dan otomotif. Teknik sampling menggunakan metode non random sampling dengan teknik purposeful sampling. Kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya sampel digunakan. Kriteria inklusi untuk kasus ini adalah masyarakat Kota Batam, wanita menikah dan single, usia 20 hingga 50 tahun, lulusan paling tidak SMU sederajat, berpendapatan minimal Rp 6.000.000,00 dan, komitmen pada aktivitas fisik atau membeli barang-barang bekas. Hasil analisis menyimpulkan bahwa penawaran terhadap berbagai barang bekas banyak ditemukan di Batam oleh faktor utama yaitu dukungan pemerintah. Sementara mengenai profesi pembeli barang bekas pakai di Batam, hampir berasal dari semua jenis profesi. Dan proses jual beli barang bekas berlangsung tidak jauh berbeda dengan proses jual beli barang di pasar tradisional.
Copyrights © 2022