EDU-KATA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Vol 8 No 2 (2022): Agustus 2022

CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL LAYANGAN PUTUS KARYA MOMMY ASF DENGAN KAJIAN FEMINSME

Riutami Riutami (SMA Negeri 1 Kenduruan)



Article Info

Publish Date
30 Aug 2022

Abstract

Penelitian ini berlatar belakang dari keinginan penulis untuk mengetahui analisis novel Layangan Putus karya Mommy ASF berdasarkan citra perempuan dan kajian feminisme. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menemukan citra perempuan dalam tinjauan analisis karya sastra melalui kritik sastra feminisme dalam novel Layangan Putus karya Mommy ASF. Penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu penulis dihadapkan pada sebuah dokumen novel Layangan Putus karya Mommy ASF yang akan dikaji citra perempuan beserta kajian kritik sastra feminisme. Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana citra perempuan dalam novel Layangan Putus dan bagaimanakah aspek feminismenya. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan dan teknik baca-catat. Hasil dari penelitian ini meliputi (a) perwujudan citra Kinan dalam aspek fisik ditunjukkan sebagai perempuan muda dan dewasa, (b) perwujudan citra Kinan dalam aspek psikis ditunjukkan sebagai perempuan yang kuat, tegar, mandiri, dan optimis dalam hidupnya, (c) perwujudan citra Kinan dalam aspek sosial yaitu dalam keluarga, peran Kinan sebagai single parent bagi anaknya, sedangkan dalam masyarakat peran Kinan sebagai perempuan yang tetap aktif dan bertanggung jawab. Mengenai kajian Feminisme yang terdapat dalam novel Layangan Putus meliputi aspek sosio-kultural diketahui bahwa perempuan tidak selamanya menjadi “makhluk kedua” setelah laki-laki. perempuan dapat sejajar dengan laki-laki jika dirinya mau untuk berusaha. Feminisme dalam aspek ekonomi menunjukkan bahwa perempuan mampu untuk berkarir di sektor publik seperti halnya laki-laki. perempuan mampu memiliki peran ganda baik itu sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karir. Feminisme dalam aspek agama menunjukkan bahwa perempuan ataupun laki-laki tidak ada halangan untuk melakukan ibadah. Hal ini dikarenakan kesuksesan adalah hasil yang diperoleh dari setiap proses ibadah yang dilakukan. Feminisme dalam aspek pendidikan menunjukkan bahwa perempuan dianggap tidak harus memiliki pendidikan yang hebat karena pada akhirnya akan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Namun, tokoh dalam novel mematahkan pendapat tersebut, perempuan juga harus mengenyam pendidikan tinggi agar dapat survive dalam rumah tangga dan memiliki masa depan yang cerah seperti laki-laki.

Copyrights © 2022






Journal Info

Abbrev

kata

Publisher

Subject

Education Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

The journal is published by the Master Program of Indonesian Language and Literature Education, Postgraduate Program, Islamic University Darul Ulum Lamongan as a medium of information, teaching facilities, and dissemination of research results, theoretical developments, and scientific writings on ...