Penelitian ini berfokus untuk memahami penolakan Tiongkok dalam memenuhi kebutuhan pasokan suku cadang pesawat Rusia dengan berdasarkan kepada perspektif Chinese School, khususnya teori realisme moral yang diperkenalkan oleh Yan Xuetong. Tindakan penolakan yang dilakukan Tiongkok menjadi sebuah anomali, mengingat Tiongkok dan Rusia merupakan dua negara yang memiliki hubungan sebagai mitra dalam berbagai organisasi dan forum Internasional serta merupakan dua negara yang sangat aktif menentang hegemoni dunia Barat pada ranah internasional. Dengan menggunakan salah satu konsep yang ditawarkan oleh teori realisme moral yaitu jenis kepemimpinan internasional, dapat dipahami bahwa Tiongkok menganggap dirinya sebagai negara wang atau wangquan (王权). Berdasarkan konsep tersebut, Tiongkok dalam hal ini berupaya memastikan kepemimpinnya melalui moralitas, sehingga dapat membentuk stabilitas pada tatanan internasional. Identitas Tiongkok sebagai negara wang tersebutlah yang kemudian membuat Tiongkok memilih untuk menolak membantu Rusia sebagai bentuk dari pelestarian terhadap norma non-intervensi pada ranah internasional.Kata kunci: Tiongkok, Rusia, Chinese School, Realisme Moral
Copyrights © 2023