Penginjilan merupakan tugas orang percaya untuk menggenapi amanat agung Tuhan Yesus. Tugas ini membutuhkan pengorbanan dalam berbagai aspek kehidupan orang percaya. Baik waktu, tenaga maupun materi. Tanpa bermaksud mengesampingkan kuasa Roh Kudus, kelancaran pemberitaan injil juga membutuhkan andil orang percaya yang memiliki sumber dana secara materi. Atas kesadaran inilah maka Chris Marantika almarhum (Pendiri Yayasan Iman Indonesia dan Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia) mencanangkan sebuah prinsip Pay Together. Prinsip ini mendorong orang percaya menyumbangkan dana untuk pekerjaan misi ini. Seiring berjalannya waktu ditemukan bahwa ide ini memiliki kelemahan yang menyertainya. Yakni, ketergantungan pada dana sumbangan sehingga tidak bisa mandiri, penyimpangan motivasi serta keterlibatan pemberi dana terhadap pekerjaan misi. Masalah ini membuat tujuan amanat agung mengalami kendala dan prinsip Pay Together tidak berjalan sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu diperlukan solusi yang dapat menyelesaikan masalah ini. Menggunakan metode kualitatif, penulis mengumpulkan informasi dan menganalisa masalah serta menemukan solusi yang tepat. Hasilnya, entrepreneurship diajukan untuk melengkapi konsep di atas. Dengan demikian konsep Pay Together tidak lagi berdiri sendiri tetapi Bersama-sama dengan entrepreneurship. Gabungan antara keduanya diharapkan dapat mempercepat laju penginjilan sehingga amanat agung dapat tergenapi sebagai kehendak Tuhan kita.
Copyrights © 2022