Keterlibatan elit lokal pesantren pada pemilu kepala daerah di Jawa Timur menjadi penentu kemenangan. Pada Pemilihan Kepala Daerah langsung peran elit agama sangat berpengaruh dalam mendulang suara pemilih. Elit menggunakan hegemoni agama dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat pada Pemilukada. Era gerakan agama baru mengubah kecenderungan paradigma berpikir bahwa pertama kalinya perempuan tampil menjadi kepala daerah. Tulisan ini bertujuan menganalisis hegemoni elit agama berbasis pesantren di era postmodernisme pada Pemilukada khususnya di Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif prespektif deskriptif dan analisis konten data kualitatif menunjukkan bahwa terdapat hegemoni dan gerakan patron klien pesantren antara kyai, santri, alumni, simpatisan dan masyarakat pesantren sebagai strategi memenangkan kepala daerah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan teori elit dan teori partisipasi politik. Data penelitian diperoleh dari analisis kepustakaan dan dokumen dari lembaga terkait. Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana elit agama menghegemoni masyarakat dalam meningkatkan partisipasi publik dan meyakinkan untuk memilih calon perempuan sebagai Gubenur. Hasil analisis menunjukkan bahwa hegemoni elit agama menjadi alat untuk meraih kekuasaan dalam proses Pemilukada. Elit agama cukup berpengaruh dalam memberikan dogma pada masyarakat melalui ritual rutin keagamaan seperti ceramah pengajian. [The involvement of the local elite pesantren in the regional head elections in East Java has become the determinant of the victory. In the direct regional head elections, the role of religious elites is very influential in gaining the voters. The elites used religious hegemony to increase people's political participation in the elections. The era of the new religious movement changed the paradigm tendency to think that women could be the regional heads. This paper aims to analyze the hegemony of pesantren-based religious elites in this postmodernist era in the elections, especially in East Java. This research uses descriptive perspective qualitative research methods and qualitative data content analysis shows that there was hegemony and movement of patrons of pesantren clients between kyai, santri, alumni, sympathizers, and pesantren communities as a strategy to win over the regional heads. In this study, researchers used elite theory and political participation theory approaches. Research data is obtained from literature analysis and documents from related institutions. The research problem is how the religious elites galvanized society in increasing public participation and convincing to choose female candidates like Gubenur. The results of the analysis showed that the hegemony of the religious elites became a tool to gain the power and win the election. The religious elites are influential in providing dogma to society through routine religious rituals such as through religious meetings.]
Copyrights © 2022