Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam
Vol. 21 No. 2 (2022)

Male Order dalam Konstruksi Seksualitas Perempuan Minangkabau

Mardian Sulistyati (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)



Article Info

Publish Date
06 Feb 2023

Abstract

Perempuan dalam sistem matrilineal Minangkabau memiliki peran dan posisi utama, namun kekuatan itu hadir bersamaan dengan semangat adat yang mendefinisikan sekaligus melemahkan. Realitas ini memantik sejumlah pertanyaan: apakah pengistimewaan perempuan dalam tradisi Minangkabau benar-benar berangkat dari kepedulian an sich? Mungkinkah konsep matrilineal Minangkabau memperantarai hasrat adat yang (sangat mungkin) maskulin? Apakah keadaan ini ada kaitannya dengan penguatan identitas keislaman di Sumatera Barat? Ketiga persoalan tersebut didiskusikan melalui tinjauan kritis terhadap tiga konsep adat, yaitu padusi, bundo kanduang, dan sumbang duo baleh. Artikel ini menunjukkan bahwa konstruksi seksualitas perempuan adalah elemen substansial untuk dapat membaca jejak maskulinitas dalam suatu sistem budaya. Tesis utama artikel ini ada pada ambivalensi feminitas dan maskulinitas yang bekerja dalam sistem matrilineal Minangkabau. Feminitas perempuan dimuliakan dan dilanggengkan secara adat, namun bersamaan dengan pengawasan dan pembatasan yang juga secara adat. Sementara itu, maskulinitas laki-laki ditekan dan dikesampingkan secara adat, namun bersamaan dengan penguatan dan pengutamaan mereka dalam ruang-ruang adat. Belakangan, aturan-aturan syariat (syarak-isasi) seksualitas perempuan semakin menguatkan kutub ambivalen ini secara ideologis dan praksis. [Women in the Minangkabau matrilineal system have the central role and position, but the power comes together with the defining and debilitating by adat. This reality raises several questions: Does the privilege of women in the Minangkabau tradition come from awareness? Does the Minangkabau concept of maternity mediate the masculine custom's desire? Does it have anything to do with strengthening the Islamic identity in West Sumatera? In this article, I discuss these questions through a critical analysis of the adat concept: padusi, bundo kanduang, and sumbang duo baleh. This article shows that the construction of female sexuality is a substantial element in being able to read the traces of masculinity in a cultural system. The thesis of this article is the ambivalence of femininity and masculinity in the Minangkabau matrilineal system. On the one hand, women's femininity is glorified and perpetuated but controlled and restricted by custom. On the other hand, male masculinity is muted and sidelined, but their identity is strengthened in custom spaces. Recently, the sharia rules (syarak-ization) of women's sexuality have increasingly emphasized this ambivalence ideologically and practically.]

Copyrights © 2022






Journal Info

Abbrev

MUSAWA

Publisher

Subject

Religion Arts Humanities Education Social Sciences

Description

Musãwa Journal of Gender and Islamic Studies was first published in March 2002 by PSW (Pusat Studi Wanita) Sunan Kalijaga Yogyakarta under contribution with the Royal Danish Embassy Jakarta. In 2008, published twice a year in collaboration with TAF (The Asia Foundation), namely January and July. ...