Meningkatnya jumlah Work In Process (WIP) pada lantai produksi atau bottleneck merupakan salah satu permasalahan yang bisa menyebabkan terjadinya keterlambatan suplai produk kepada konsumen. Dampak lain dari terjadinya bottleneck yaitu dapat menyebabkan penumpukan bahan baku setengah jadi pada lantai produksi sehingga WIP menjadi tinggi. Kondisi ini merupakan kondisi merugikan yang harus dihindari oleh perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan usulan perbaikan pada permasalahan terjadinya bottleneck di lintasan produksi dengan menggunakan beberapa metode line balancing heuristik, yaitu metode Helgesson-Birnie / Ranked Positional Weight (RPW), metode Region Approach, metode Largest Candidate Rule dan metode J-Wagon yang diterapkan di perusahaan manufaktur (PT.’X’) yang memproduksi pallet. Hasil penelitian diketahui bahwa pada penerapannya metode J-Wagon terpilih sebagai metode yang paling optimal diantara metode lainnya tersebut. Rekomendasi untuk PT.’X’ dalam mengatasi permasalahan bottleneck yaitu dengan pembentukan stasiun kerja yang awalnya memiliki jumlah 5 stasiun kerja diubah menjadi 4 stasiun kerja. Ini menghasilkan perbaikan lini lintasan kerja yang awalnya memiliki line efficiency sebesar 69%, balance delay sebesar 31%, smoothness index sebesar 9.22 dan total waktu menganggur sebesar 3.60 menit menjadi line efficiency sebesar 86%, balance delay sebesar 14%, smoothness index sebesar 0.80 dan total waktu menganggur sebesar 1.28 menit.
Copyrights © 2020