Di antara rintangan komunikasi antarbudaya adalah adanya stereotype yang dilekatkan pada kelompok budaya tertentu. Untuk itu penting mengeksplorasi mengapa rintangan tersebut muncul dan bagaimana upaya mereduksinya melalui Perspektif CMM berbasis kearifan lokal. Pengumpulan data dilakukan melalui focus group discussion dengan melibatkan partisipan dari masyarakat lokal dan mahasiswa asal Indonesia Timur di Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki pengalaman berkomunikasi dengan masyarakat setempat serta berupaya memahami cara pandang orang dari budaya lain mampu menggunakan fungsi aturan konstitutif dan regulatif dengan baik. Dengan demikian mereka lebih mampu melewati proses koordinasi makna dengan lebih baik. Implikasinya, rintangan komunikasi antarbudaya dapat diminimalisasi. Koordinasi menuntut individu berpegang pada nilai etika. Nilai etika dalam komunikasi antarbudaya terefleksi dalam sikap empati dan adaptasi budaya yang tumbuh melalui internalisasi nilai kearifan lokal yang diyakini bersama, baik oleh mahasiswa asal Indonesia Timur maupun masyarakat setempat di Malang, yaitu nilai terkandung dalam peribahasa “Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”.
Copyrights © 2022