Pendahuluan: COVID-19 merupakan suatu pandemi global yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain gejala pernapasan, manifestasi dermatologikus juga telah dilaporkan secara luas, dengan manifestasi dominan berupa kerontokan rambut. Ilustrasi kasus: Seorang laki-laki berusia 32 tahun mengalami kebotakan setempat pada area vertex kepala yang muncul 1 bulan setelah mengalami infeksi kedua SARS-CoV-2. Riwayat gangguan autoimun dan kebotakan disangkal. Pemeriksaan trikoskopi ditemukan gambaran yellow-dots, black-dots, broken-hairs, dan exclamation-mark hairs. Pasien diobati dengan minoxidil dan tretinoin topikal selama tiga bulan dengan respons yang sangat baik. Diskusi: Infeksi COVID-19 dan stress psikologis akibat infeksi COVID-19 dapat memicu alopesia areata (AA). Infeksi COVID-19 menginduksi aktivasi kaskade sitokin yang melibatkan interferon sehingga mengganggu hair follicle immune privilege (HFIP). Sementara itu, stress psikologis juga meningkatkan peradangan neurogenik dan beralih ke respons imun sel T-helper tipe 1 yang memengaruhi pertumbuhan rambut. Terdapat tiga laporan sebelumnya mengenai AA onset baru paska infeksi COVID-19 dan laporan kami adalah satu-satunya AA onset baru paska reinfeksi COVID-19. Kesimpulan: Laporan kami mengenai AA onset baru paska reinfeksi COVID-19 memberikan wawasan tentang kemungkinan hubungan antara infeksi COVID-19 dan AA. Timbulnya AA pada pasien COVID-19 merupakan gejala sisa/sekuele paska COVID-19 yang disebabkan oleh respon imun atau tekanan psikologis.
Copyrights © 2022