Tulisan ini akan menganalisis tentang posisi perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat Batak terutama dalam upacara kematian Mate Pupur. Dalam konteks kehidupan dan pelaksanaan adat Batak, ditemukan tindakan ketidakadilan dan perilaku diskriminatif terhadap kaum perempuan. Hal ini terutama berkaitan dengan cita-cita hagabeon yang menempatkan kaum laki-laki berada di atas segalanya. Tulisan ini menggunakan pendekatan deskripsi-analitif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa perempuan Batak mengalami ketidaksetaraan gender yang ditandai dengan terjadinya subordinasi (penomorduaan) dan marjinalisasi. Nilai dan harga seorang perempuan terletak pada kebehasilannya melahirkan seorang anak laki-laki. Pemahaman ini tetap langgeng hingga masa kini, masa kehadiran gereja di tengah kehidupan orang Batak. Kelanggengan ini tidak dapat dapat dipisahkan dari paham yang melekat dalam diri orang Batak itu sendiri. Maka untuk sebuah perubahan, diperlukan revolusi gagasan –posttkolonial pedagogis melalui institusi sosial dalam hal ini gereja.
Copyrights © 2022