Christian education must recognize the rich local cultural heritage and educational values in the increasingly developing digital culture. This article offers a model of humanistic Christian education through the foster child system. The foster child system is an educational practice in Minahasa in the 19th century that shows two essential values: a holistic educational model and a transforma-tive Christian education. This qualitative research uses descriptive and historical reconstruction methods with a chronological approach, such as outlining cultu-ral encounters through literature in books and related journal articles. As a result, the cultural heritage of the foster child contributes to the construction of holistic and transformative Christian education, so it can guide the use of technology that leads to humanity. AbstrakPendidikan kristiani, di tengah semakin berkembangnya budaya digital, tidak boleh mengabaikan warisan budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai edukatif. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah model pendidikan kristiani yang humanis melalui sistem anak piara. Sistem anak piara merupakan sebuah praktik pendidikan di Minahasa pada abad ke-19 yang menunjukkan dua nilai penting, yakni model pendidikan dan cara berpengetahuan yang holistik serta pendidikan kristiani yang transformatif. Penelitian ini berjenis kualitatif yang menggunakan metode deskriptif dan rekonstruksi historis, dengan pende-katan kronologis, seperti menguraikan perjumpaan budaya, melalui penggu-naan literatur dalam bentuk buku maupun artikel jurnal terkait. Hasilnya, warisan budaya anak piara berkontribusi pada konstruksi pendidikan kristiani yang holistik dan transformatif, sehingga dapat mengawal penggunaan tekno-logi yang bermuara pada kemanusiaan.
Copyrights © 2022