Telah tampak kerusakan (lingkungan) di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan jahil manusia, sehingga Allah menumpahkan kepada mereka sebagian dari akibat yang mereka lakukan, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Inilah tesis utama yang mendasari kiris dan bencana lingkungan hidup yang disebabkan oleh kesalahan perilaku manusia. Kesalahan perilaku manusia dipengaruhi karena kesalahan cara pandang atau paradigmaa berpikir manusia yang egoistik dalam memandang alam semesta serta abai terhadap peringatan Tuhan-Nya. Oleh karena itu cara terbaik untuk mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup atau ekologi, dibutuhkan perubahan perilaku, yang hanya bisa terjadi dengan melakukan perubahan paradigmaa berpikir tersebut. Paradigmaaa atau cara berpikir seperti apa yang menyebabkan perilaku manusia bisa merusak lingkungan alam ini?, yakni paradigmaa antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari segala sesuatu, sedangkan alam dianggap tidak mempunyai nilai intrinsic pada dirinya sendiri selain nilai instrumental ekonomis bagi kepentingan ekonomi manusia. Paradigmaa antroposentrisme inilah yang melahirkan perilaku eksploitatif eksesif yang merusak alam sebagai komoditas ekonomi dan alat pemuas kepentingan manusia. Oleh karena itu diperlukan peninjauan kembali seluruh paradigmaa mengenai hakikat alam semesta yang telah sedemikian mendominasi sepanjang sejarah filsafat - ilmu pengetahuan. Solusi yang ditawarkan sejalan dengan itu adalah perubahan radikal pradigma kita dari antroposentrisme menjadi biosentrisme, atau bahkan ekosentrisme, yang mamandang alam sebagai sama pentignya karena mempunyai nilai intrinsic pada dirinya sendiri baik kehidupan manusia maupun kehidupan makhluk hidup pada umumnya yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya.
Copyrights © 2023