Penelitian ini menitikberatkan pada pola hubungan Kiai dan politik terhadap otoritas maupun legitimasi Kiai pada lembaga pendidikan, dan masyarakat. Menurut hemat penulis, ada kecenderungan bahwa otoritas dan legitimasi Kiai makin hari kian memudar, terlebih Kiai yang bersinggungan dengan politik. Maka penulis pada tataran ini akan menggunakan konseptualisasi Peter L. Berger dengan pendekatan konstruksi sosial. Dengan pendekatan ini, penulis ingin melihat bagaimana konseptualisasi Kiai sebagai realitas sosial membentuk makna-makna baru dari pemahaman masyarakat terhadap dunia Kiai dalam konteks politik lokal. Pembahasan ini menurut hemat penulis menjadi penting untuk melihat bagaimana otoritas dan legitimasi Kiai pada pesantren termasuk masyarakat yang pada prosesnya akan turut mempengaruhi eksistensi Kiai. Baik eksistensi Kiai sebagai pimpinan pesantren, sebagai tokoh agama termasuk eksistensi lembaga pendidikan yang dikembangkan Kiai. Untuk itu, jenis penelitian deskriptif kualitatif menjadi pilihan penulis untuk memudahkan dalam medeskripsikan hasil penelitian ini. Adapun metode yang yang digunakan adalah pengamatan lapangan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Kiai tidak harusberasaldarikulturpesantrenmaupunkulturKiaiitusendiri. Akan tetapi Kiai tidak ubahnya sebatas pejabat strutural yang peran dan fungsinya hanya sebagaiMudir al-ma’had (direktur pesantren) yang dapat diangkat dan diberhentikan oleh yayasan. Fenomena ini tentu membuka ruang bagi siapapun untuk menjadi Kiai, terlepas ia memiliki kedalam ilmu agama ataubergantung keputusan yayasan.
Copyrights © 2019