The Happiness Paradoks adalah paradoks kebahagiaan terjadi ketika seseorang berusaha terlalu keras untuk mencapai kebahagiaan dan menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan. Sebaliknya, mereka justru merasa menderita karena pikiran mereka. Mereka merasa tidak bahagia saat ini dan terus mengejar standar yang dianggap penting untuk mencapai kebahagiaan. Namun, semakin mereka mengejar, semakin tak tercapai rasanya. Selain itu, semakin banyak mereka memikirkan masalah, kecemasan, dan kekurangan dalam hidup, semakin besar pula perasaan negatif yang mereka alami. Cerita yang beredar di media sosial mengisahkan seorang konsultan dengan gaji di atas 40 juta rupiah. Meskipun pekerjaannya terdengar menyenangkan dan ia sering berkeliling kota besar Indonesia menggunakan maskapai terbaik, menginap di hotel bintang empat atau lima, hidupnya tidak pernah lepas dari handphone dan laptop. Setiap hari, handphone-nya terus berdering dengan ratusan pesan yang menumpuk untuk dibaca. Matanya hampir tidak pernah lepas dari laptop hingga larut malam. Makanan lezat dan beragam di hotel tidak lagi terasa istimewa baginya karena ia telah terbiasa mengalaminya. Dia menyadari bahwa hidupnya habis untuk bekerja, tetapi uang dan kemewahan tidak membuatnya bahagia. Dia terus mencari kebahagiaan, padahal ia sudah memiliki segalanya. Lalu apa lagi yang ia cari? Menginap di hotel mewah tentu memberikan kesenangan, tetapi semakin sering kita mengalaminya, hal istimewa tersebut menjadi biasa. Manusia selalu ingin meningkatkan kebahagiaan dan standar hidupnya, tetapi mencapai kebahagiaan yang berkelanjutan seumur hidup sangat tidak realistis. Kadang-kadang, kita akan mengalami hal buruk dan penderitaan, dan itulah yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Beberapa fase dalam hidup kita adalah berkah yang harus disyukuri, sementara yang lain adalah tantangan yang akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Copyrights © 2023