Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 menunjukkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi, sebesar 189/100.000 kelahiran hidup. Meskipun relative lebih baik dari beberapa kabupaten/kota di Provinsi Banten akan tetapi Kota Tangerang belum mampu menurunkan tingkat kematian ke angka zero death. Kebaruan penelitian ini karena meneliti tren penyebab kematian maternal berdasarkan hasil audit maternal perinatal. Tujuan penelitian untuk menganalissi tren dan penyebab kematian maternal di Kota Tangerang tahun 2016-2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, pendekatan studi dokumentasi Audit Maternal Perinatal (AMP) di Kota Tangerang tahun 2016-2021 sebanyak 49 kasus. Kematian ibu di Kota Tangerang tahun 2016-2021 sebanyak 49, penyebab kematian terbanyak karena preeklampsia (51,1%), berdasarkan karakteristik ibu kematian pada rentang usia 20−35 tahun (65,3%); paritas 2−4 (49,0%), jarak kelahiran 2 tahun (89,8%); tanpa penyakit penyerta (79,6%), kunjungan ANC ≥ 4 kali (81,6%); pendidikan SMA (69,4%); periode kematian masa nifas (69,4%) dan tempat kematian di rumah sakit (93,9%); berdasarkan proses rujukan, jarak tempuh ke fasilitas kesehatan ≤ 5 km (98,0%); ketersediaan transportasi (100%); memiliki jaminan kesehatan (73,5%), memanfaatkan sistem komunikasi rujukan (57,1%); (89,8%) kematian maternal seharusnya dapat dicegah, berdasarkan faktor penyebab yang dapat dicegah (68,5%) dari faktor penyedia layanan, berdasarkan rekomendasi AMP 39,1% terbanyak untuk fasilitas kesehatan, berdasarkan kemampuan dalam melakukan tindak lanjut atas rekomendasi AMP Kota Tangerang dikategorikan “menengah†karena tindak lanjut atas rekomendasi sebanyak (59,4%). Kesimpulan bahwa tren kematian maternal di Kota Tangerang tahun 2016-2021 cenderung stagnan, penyebab terbesar kasus kematian maternal karena preeklampsia dan perdarahan.
Copyrights © 2023