AbstrakBerbicara tentang sosiolinguistik tidak terlepas dari penggunaan bahasa dalam konteks masyarakat tutur (speech community). Salah satu fenomena sosiolinguistik yang menarik di Timor-Leste adalah pergeseran dan pemertahanan bahasa (language shift and maintenance) sebagai akibat dari kontak bahasa (language contact). Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan pergeseran bahasa Tetun, Portugis, dan Indonesia di Timor-Leste secara kualitatif. Metode penelitian ini deskriptif-kualitatif dengan teknik studi kepustakaan dan studi lapangan. Temuan penelitian menunjukkan adanya pergeseran dan pemertahanan bahasa yang sangat menarik terjadi di Timor-Leste. Sebelum integrasi dengan Republik Indonesia (tahun 1975 dan sebelumnya), bahasa Portugis digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa liturgi keagamaan, sementara bahasa Tetun sebagai bahasa daerah (vernacular). Pada masa integrasi dengan Indonesia (1975 – 1999), bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa resmi kenegaraan dan lingua franca/bahasa persatuan, sedangkan bahasa Tetun tetap sebagi bahasa daerah, dan bahasa Portugis sebagai bahasa asing. Dewasa ini bahasa Tetun dan Portugis berstatus sebagai bahasa resmi kenegaraan, sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja (asing). Kata kunci: pergeseran bahasa, pemertahanan bahasa, kontak bahasa, lingua franca, vernacular AbstractTalking about sociolinguistics, it is inseparable from the use of language in the context of speech communities. One of the interesting sociolinguistic phenomena in Timor-Leste is the language shift and maintenance as a result of language contact. The purpose of this study is to describe the language shift and maintenance of Tetun, Portuguese and Indonesian in Timor-Leste qualitatively. This research method is a descriptive-qualitative research using library research techniques and field studies. The findings of the study indicate a shift and very interesting language maintenance took place in Timor-Leste. Before integration period with the Republic of Indonesia (1975 and earlier), Portuguese was used as the official state language, religious liturgical language, while Tetun was the vernacular language. When East Timor got integrated with Indonesia (1975 - 1999), Indonesian language was used as the official language of the state and the lingua franca, while Tetun remained as a vernacular language, Portuguese as a foreign language. Today Tetun and Portuguese are used as official state languages, while Indonesian is one of (foreign) working languages. Keywords: language shift, language maintenance, language contact, lingua franca, vernacular
Copyrights © 2023