Ketika kasus virus merebak di dunia, bidang pariwisata mendapat dampat yang cukup kuat sehingga menggoyahkan perkembangan sector ini. Masalahnya kemudian semakin berat ketika instrumen pendukung utama kegiatan parawisata menjadi terganggu, seperti penerbangan. Setelah muncul travel warning dari beberapa negara untuk mengunjungi wilayah mereka membuat kegoncangan dunia parawisata karena banyak agen-agen perjalanan yang membatalkan kunjungan ke daerah destinasi wisata. Tentu saja secara ekonomi kerugian besar melanda di sektor ini bahkan secara global proyeksi pertumbuhan ekonomi terpaksa dipangkas 2 persen. Hal tersebut menandakan beratnya tekanan yang dihadapi di sector ini karena itu pemerintah masing-masing negara membuat semacam stimulus untuk menggerakkan sektor ini seperti memberi diskon tiket maupun penginapan di hotel-hotel yang terkena dampak virus Corona ini. Namun bila melihat situasi yang terjadi di daerah yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata religi tampaknya tidak ada dampak yang berarti. Karena mereka yang melakukan kunjungan ke tempat seperti ini biasanya mereka yang beragama Islam dan melakukan kunjungan religi yang juga merasa melakukan ibadah. Daerah-daerah wisata religi di tanah air relatif tetap banyak dan tidak terpengaruh terhadap peringatan penyebaran virus Corona yang sedang melanda dunia. Masalah tersebut menimbulkan keunikan tersendiri betapa kegiatan wisata religi lebih kebal terhadap isu-isu seperti virus corona. Namun demikian pemerintah sebaiknya juga waspada untuk tetap melakukan langkah-langkah pencegahan sehingga bencana penyebaran virus tersebut dapat dicegah. Wisata religi meliki potensi ekonomi yang cukup tinggi di dunia khususnya indoensia karena itu ada baiknya juga belajar kepada mereka yang relatif telah berhasil meningkatkan pendapatan di sektor ini. Keterkaitan dunia wisata dengan masyarakat diperlukan intermedia akademik yang menghungkan kedua sektor di atas. Karena itu diperlukan usaha untuk menjalin hubungan berkesinambungan dalam rangka mempererat kerangka kerja sama antara pihak kampus dengan masyarakat diperlukan membuat semacam desa binaan. Hal ini sebagai wujud dari salah satu Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Desa binaan refleksi dari usaha untuk menerapkan teori-teori yang selama ini dikenal di dunia kampaus dipraktekkan ke dalam realitas sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Dunia kampus juga bertanggung jawab terhadap perkembangan masyarakat sehingga desa binaan diperlukan dalam rangka wujud dari tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Selama ini masyarakat sering dijadikan sebagai objek kajian dalam berbagai penelitian, sementara itu dalam pola desa binaan ini masyarakat dijadikan sebagai subjek dalam kegiatan-kegiatan sosial yang lazim dilakukan.
Copyrights © 2020