Diabetes dapat menimbulkan komplikasi makrovaskular, dan mikrovaskular yangmenyebabkan penyakit ini memiliki angka mortalitas yang tinggi. Salah satu komplikasi dari diabetesmelitus adalah ulkus diabetik. Ulkus diabetik yang tidak dirawat dengan baik akan mudah mengalamiluka, dan akan cepat berkembang menjadi ulkus diabetik terinfeksi. Jumlah penderita ulkus diabetikdapat mencapai 15% dari jumlah penderita diabetes itu sendiri (Aumiller & Dollahite, 2015). Ulkuskaki diabetik yang kronis dan sulit disembuhkan menjadi penyebab tersering dilakukannya nontraumatik amputasi (lower leg amputation/LEA) pada penderita diabetes melitus, yaitu mencapai 82%.Tujuan dari terapi infeksi ulkus diabetik adalah untuk mengeradikasi gejala klinik infeksi, mencegahhilangnya jaringan lunak dan mencegah amputasi. Pemberian terapi antibiotik empiris memperhatikanadanya tanda infeksi pada ulkus diabetik. Pada kenyataannya pasien dengan ulkus diabetik terinfeksiseringkali sudah resisten dengan antiobiotik yang diberikan peroral. Hal ini menjadi kendala tersendirikarena untuk memperoleh terapi antibiotik injeksi di RS pasien harus menjalani rawat inap namunsering kali pasien menolak dengan berbagai macam alasan. Keadaan ini tentu saja menghambatproses penyembuhan luka dikarenakan pemberian obat antibiotika yang tidak optimal dan dapatmenimbulkan resistensi antibiotika, dengan segala akibatnya. Penelitian dengan judul “GambaranPerbaikan Klinis pada Luka Pasien Ulkus Diabetik di Pelayanan Rawat Jalan” dilakukan untukmengetahui gambaran klinis ulkus diabetik terinfeksi yang menjalani pelayanan rawat rawat jalan.
Copyrights © 2023